Hakim Erlangga Bernado Sakti
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Oksidasi Hidrogen Peroksida Terhadap Nilai Kalor, Proksimat, dan Ultimat Batubara Formasi Wahau Malik Ardian; Shofa Rijalul Haq; R.M. Basuki Rahmad; Hakim Erlangga Bernado Sakti; Oktarian W Lusantono; Dwi Poetranto Waloejo
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol. 11 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jtp.v11i2.15621

Abstract

Batubara lignit dari Formasi Wahau, Kalimantan Timur, memiliki cadangan besar namun nilai kalor rendahsehingga kurang kompetitif di pasar internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perlakuanhidrogen peroksida (H₂O₂) 3% terhadap nilai kalor serta komposisi proksimat dan ultimat pada tiga ukuran partikel(40, 60, dan 100 mesh). Metode penelitian meliputi preparasi sampel, perlakuan oksidasi, serta pengujian nilaikalor menggunakan bom kalorimeter, analisis proksimat, dan analisis ultimat. Hasil penelitian menunjukkanbahwa perlakuan H₂O₂ tidak meningkatkan nilai kalor, bahkan cenderung menurunkannya. Penurunan terbesarterjadi pada 60 mesh, dari 5.627 menjadi 4.291 kkal/kg. Analisis proksimat memperlihatkan peningkatan volatilematter (misalnya pada 60 mesh dari 13,42% menjadi 19,54%), penurunan fixed carbon (pada 100 mesh dari81,12% menjadi 76,29%), serta kecenderungan peningkatan kadar abu. Analisis ultimat menunjukkan penurunankarbon (C) dan peningkatan oksigen (O), sedangkan sulfur (S) tidak terdeteksi pada semua sampel.Kesimpulannya, H₂O₂ berperan sebagai agen oksidator yang mengubah komposisi kimia batubara danmeningkatkan reaktivitasnya, tetapi tidak efektif sebagai metode peningkatan mutu energi batubara FormasiWahau.
Karakteristik Logam Tanah Jarang di lapisan Batubara pada Formasi Pulaubalang dan Formasi Balikpapan Edy Nursanto; Adi Ilcham; Arif Rianto Budi Nugroho; Hakim Erlangga Bernado Sakti
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol. 11 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jtp.v11i2.16330

Abstract

Selain dimanfaatkan sebagai bahan bakan, batubara juga dimanfaatkan sebagai salah satu batuan pembawa logam tanah jarang (LTJ) dalam kadar yang cukup signifikan. Permintaan akan Logam Tanah Jarang terus meningkat tajam, didorong oleh perannya yang tidak tergantikan dalam berbagai aplikasi teknologi tinggi, termasuk baterai, paduan ringan, perangkat medis, katalis, dan teknologi energi terbarukan. Batubara, bersama dengan produk samping pembakarannya seperti abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash), telah diidentifikasi sebagai sumber potensial yang melimpah dan belum banyak dimanfaatkan. penelitian ini disusun untuk menganalisis potensi LTJ di batubara Formasi Balikpapan dan Formasi Pulau Balang. Potensi berupa kadar LTJ pada sampel batubara di Formasi Balikpapan dan Formasi Pulau Balang. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan di bidang geologi batubara, khususnya mengenai akumulasi dan distribusi LTJ dalam batubara khususnya batubara Cekungan Kutai. Penelitian ini mengukur konsentrasi dan jenis LTJ dalam batubara dari Formasi Pulau Balang dan Balikpapan menggunakan metode kuantitatif-kualitatif deskriptif-analitis dan pengujian ICP-OES sesuai standar ASTM D6357–11, dengan sampel diambil melalui random sampling. Analisis ICP-OES menunjukkan total Rare Earth Elements (REE) pada sampel batubara bervariasi antara 104,29-269,63 mg/kg, dengan dominasi light rare earth elements (LREE) di seluruh sampel. Analisis sampel batubara menunjukkan variasi luas pada nilai koefisien konsentrasi (CC) unsur REE, yang dihitung sebagai rasio konsentrasi unsur terhadap nilai Clarke. Nilai CC di atas 1 mengindikasikan pengayaan dibandingkan kerak bumi, sementara di bawah 1 menunjukkan deplesi. Unsur seperti Pr, Tb, Gd, dan Lu secara umum sangat kaya (CC > 1), berbeda dengan Ce dan Y yang memiliki nilai CC lebih rendah.