Artikel ini berjudul Substansi Kosmologis Filosofis-Religius Sunda dalam Naskah Sanghyang Hayu abad XVI Masehi. Sumber data kajiannya didasarkan pada tradisi tulis Sunda Kuno yang berjudul Sanghyang Hayu. Adapun tujuannya penulisan artikel adalah menelusuri struktur-struktur yang paling mendasar secara kosmologis guna mencari makna dunia yang mendasari semua arti dunia lainnya, dan yang selalu diandaikan secara implisit. Untuk mewujudkan tujuan tersebut ditempuh melaui pendekatan filologi karena berkaitan dengan proses kajian sumber tradisi tulis dalam upaya peafsiran data yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian deskripsif kualitatif diterapkan dalam upaya memahami fakta di balik kenyataan yang dapat diamati secara langsung. Kosmologi pada hakikatnya juga dipergunakan dalam ranah ilmu-ilmu empiris guna menelaah ilmu tentang evolusi kosmis. Dalam kajian ini, penggunaan istilah kosmologi dilekatkan tambahan filosofis-religius sebagai kata penjelasan. Berdasarkan proses pembahasan dapat disimpulkan: Hasilnya diperoleh gambaran: Pertama, manusia itu pada dasarnya terikat erat pada pandangan susunan jagat semeta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan secara timbal balik antara manusia dengan dunia alam semesta melalui konsepsi tigarahasya. Manusia tidak hanya merupakan bagian dunia begitu saja. Manusia hanya menemui diri dalam korelasi dengan manusia lain dan dengan dunia pada umumnya dalam substansi bayu-sabda-hedap. Refleksi atas dirinya sendiri secara konkret dan menyeluruh mesti memiliki substansi astaguna yang merupakan pula refleksi atas dunia. Manusia dan dunia saling mengimplikasikan dan saling mengandung. Kedua, hanya manusia yang bertanya tentang substansi penciptaan dunia, artinya bahwa manusialah yang berhubungan dengan dunia secara sadar. Tanpa pengalaman sadar itu dunia hanya didekati dari luar, tanpa menyadari hubungan intim dalam substansi pratiwi, sarira, syaku, syanu, dan Hyang Manon sebagai hasil pengetahuannya berciri empiris belaka. Hanyalah refleksi atas otonomi dalam korelasi melalui substansi pancamarga, manusia memberikan pandangan hakiki mengenai dunia alam semesta.