Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Politik dan Budaya Damai di Zaman Galuh Pakuan dalam Konstelasinya di Masa Kini Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16930

Abstract

The manuscripts as cultural documents inherited from Sundanese past ancestors are plentiful and still very relevant to be introduced and revealed at the present. The values of local wisdom contained and revealed in the manuscript, covers various aspects of people's lives concerning the seven elements of Sundanese culture, i.e. religious systems or beliefs, technology, material items, government/society, livelihoods/economics, science/education, language, and arts. The expectations implied and expressed in the texts revealed in this article are still intertwined with the current life of the Sundanese people, especially regarding communication and political ethics, which of course is inseparable from reliable human resources, those are the stakeholders, the government, and the young generation as heirs of the nation. This article is presented and examined through descriptive analytical research methods, involving philological study, historiography, and cultural studies methods in general, which are expected to be able to uncover the local wisdom of government system and political communication contained in the XVI century Sundanese manuscripts, and its constellation with current Sundanese culture.AbstrakNaskah sebagai dokumen budaya tinggalan karuhun orang Sunda masa lampau, sungguh sangat melimpah dan masih sangat relevan untuk dikenalkan dan diungkap isinya pada masa kini. Kearifan lokal nilai-nilai yang terkandung dan terungkap dalam naskah, meliputi beragam aspek kehidupan masyarakat yang menyangkut tujuh unsur budaya Sunda, yakni: sistem religi atau kepercayaan, teknologi dan benda materiil, pemerintahan/kemasyarakatan, mata pencaharian hidup/ekonomi, ilmu pengetahuan/pendidikan, bahasa, dan seni. Harapan yang tersirat maupun tersurat dalam naskah-naskah yang diungkap dalam artikel ini masih terjalin adanya benang merah dengan kehidupan masyarakat Sunda saat ini, khususnya tentang komunikasi dan etika berpolitik”, yang tentu saja tidak terlepas dari sumber daya manusia yang andal, yakni para pemangku kebijakan, pemerintahan, dan generasi muda sebagai pewaris bangsa. Artikel ini dipaparkan dan dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dengan melibatkan metode kajian filologis, historiografi, dan kajian budaya secara umum, yang diharapkan mampu mengungkap kearifan lokal sistem pemerintahan dan komunikasi politik yang terkandung dalam naskah Sunda abad XVI Masehi, konstelasinya dengan budaya Sunda masa kini.
Existence of Sundanese Manuscripts as a Form of Intellectual Tradition in the Ciletuh Geopark Area Darsa, Undang Ahmad; Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.887 KB) | DOI: 10.26811/peuradeun.v8i2.369

Abstract

The variety of Sundanese manuscripts are still scattered in individual communities, as well as those already stored in various libraries and museums in West Java. The Sundanese script is still stored in the Ciletuh Geopark, Sukabumi District. This research is interesting because of the discovery of several manuscripts around the southern Sukabumi area, especially at Surade, Ciemas, and Jampang Kulon areas. Descriptive method of comparative analysis that was used trying to describe the data in detail and thoroughly, analyze it carefully, and compare those target accurately between several texts studied. While the method of the study in the form of text critique method, referred to the method of a single script, through the standard edition. The method of content review used the method of cultural studies, which reveals the existence and function of the script pragmatically in the community, especially in the Ciletuh Geopark. The results of the research can be considered as "the documents and local wisdom of Sundanese culture", which deserves to be addressed wisely in the hope that the content contained in it is able to reveal the history of the life of Ciletuh Geopark, either through written tradition, folklore, and culture.
Tata Ruang Kosmologis Masyarakat Adat Kampung Naga berbasis Naskah Sunda Kuno Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25163

Abstract

Cosmologically, humans are seen as the microcosm of the universe whose entire life must always carry out all the torments or teachings of the Sanghyang Darma. That is the ideal human who can reach eternal heaven or nirvana according to the Sanghyang Raga Dewata (SRD) manuscript, one of the lontar manuscripts and the ancient Sundanese language of the sixteenth century AD. The cosmological concept of spatial Sundanese society, based on several Sundanese manuscripts of the XVI century AD, is triad, triune or triumvirate. Sundanese people have a view of parallels between the macrocosm and the microcosm, between the universe and the human world. This order seeks to find the meaning of the world according to its existence. This paper presents the cosmological layout of the Kampung Naga indigenous people, based on the Ancient Sundanese XVI century AD, which is examined through descriptive analysis research methods, and philological and cultural studies methods. The cosmological concept of the Kampung Naga community is closely related to the concept known as Tri Tangtu Di Bumi, which includes ‘tata wilayah', 'tata wayah', and 'tata lampah', all of which are interconnected with one another, according to their customs and traditions. AbstrakSecara kosmologis, manusia dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya, seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa atau ajaran Sanghyang Darma.  Itulah manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi atau nirwana menurut naskah Sanghyang Raga Dewata (SRD), salah satu naskah lontar beraksara dan berbahasa Sunda kuno abad ke-16 Masehi. Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis, berdasarkan beberapa naskah Sunda abad  ke-16 Masehi, bersifat tiga serangkai, tritunggal atau triumvirate. Masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Dalam tatanan ini, berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya. Tulisan ini menyajikan kosmologis tata ruang masyarakat adat Kampung Naga, berbasis naskah Sunda Kuno abad ke-16 Masehi, yang dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan kajian filologi dan budaya. Konsep kosmologis masyarakat Kampung Naga seperti itu, berkaitan erat dengan konsep yang dikenal dengan sebutan Tri Tangtu di Bumi, yang meliputi ‘tata wilayah’, ‘tata wayah’,  dan‘tata lampah’, yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain, sesuai dengan adat dan tradisi mereka.
Konsep “Parigeuing” dalam konteks kepemimpinan dan komunikasi politik berdasarkan naskah Sunda kuno Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.21 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i2.25671

Abstract

Pada naskah-naskah Sunda kuno terdapat konsep “parigeuing”. Naskah-naskah yang memuat konsep “Parigeuing” tersebut adalah Amanat Galunggung (AG), Fragmen Carita Parahyangan (FCP), Sanghyang Hayu (SH), dan Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian (SSK). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal kepemimpinan Sunda yang disebut “Parigeuing” yang tertera dalam naskah-naskah Sunda kuno abad ke-16 M. Metode penelitian deskriptif analisis, diimplementasikan untuk mendeskripsikan data yang ada dalam naskah Sunda kuno. Selain itu, digunakan pula metode kajian kritik teks, kajian budaya, dan komunikasi politik, untuk mengkaji dan menganalisis kandungan isi naskah, sesuai dengan bahasan yang berkaitan dengan konsep “Parigeuing” dalam konteks kepemimpinan dan komunikasi politik. Sumber data primer berupa empat buah edisi teks naskah Sunda kuno abad ke-16 M dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Hasil yang didapat berkaitan dengan konsep kepemimpinan dan komunikasi politik dari keempat naskah dimaksud, pada dasarnya sejalan. Berdasarkan naskah SH, seorang pemimpin yang ideal harus menjiwai “Tiga Rahasia” yang terdiri dari lima bagian dalam lima belas karakter yang harus terinternalisasi dalam diri seorang pemimpin, dan menjalankan prinsip “Astaguna”. Pemimpin ideal dalam naskah SSK, harus memiliki sifat “Dasa Prasanta”, yang di dalam dirinya sudah melekat karakter kepemimpinan “Pangimbuhning Twah”. Dalam teks naskah FCP, antara ketiganya harus menjiwai karakternya masing-masing. Prebu harus “ngagurat batu”, Rama harus “ngagurat lemah”, dan Resi harus “ngagurat cai”. Selain itu, pemimpin ideal pun harus menjauhi “Opat Paharaman” dan “Catur Buta”. Seluruh karakter pemimpin dalam konsep Parigeuing tersebut dapat diwujudkan dalam komunikasi politik yang efektif dan bernilai.
BUTIR-BUTIR PANCASILA DALAM NASKAH SUNDA KUNO ABAD XVI MASEHI Sumarlina, Elis Suryani Nani; Darsa, Undang Ahmad; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Husen, Ike Rostikawati
Sosiohumaniora Vol 23, No 3 (2021): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v23i3.24420

Abstract

Naskah sebagai dokumen budaya, sampai saat ini belum begitu dikenal oleh masyarakat secara menyeluruh. Padahal isi yang terkandung di dalamnya bisa dikaji dari berbagai disiplin ilmu secara multidisiplin. Salah satunya naskah Sunda yang mengungkap butir-butir Pancasila, yang bermanfaat untuk ilmu sosial politik, ilmu hukum dan ketatanegaraan, maupun ilmu komunikasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pancasila sebagai landasan hukum NKRI masih tetap kokoh hingga kini, dan senantiasa bersemayan dalam denyut jantung serta nadi setiap insan masyarakat Indonesia, meskipun beberapa kali diuji eksistensinya. Itu sebabnya, kita senantiasa mengenang hari lahir dan kesaktian Pancasila. Tulisan ini bertujuan mengungkap gagasan butir-butir Pancasila yang terungkap dalam naskah Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian (SSK), Amanat Galunggung (AG), dan Sanghyang Raga Dewata (SRD). Metode penelitian yang digunakan deskriptif analisis komparatif serta kritik teks, historiografi tradisional, dan hermeneutik, untuk mengungkap gagasan Pancasila yang terpendam dalam naskah Sunda Kuno abad XVI Masehi. Butir-butir Pancasila dijabarkan melalui Panca Tata Gatra, terdiri atas:  1) Percaya kepada Sang Pencipta yang menguasai alam semesta;  2) Tindakan dan perilaku manusia yang harus adil, bijaksana, dan beradab;  3) Unsur  alam semesta, yakni tanah, air, angin, cahaya, dan angkasa, yang harus bersatu; 4) Perekonomian  diimplementasikan melalui mata pencaharian hidup sebagai  petani, ahli perang, bangsawan termasuk alim ulama, dan  raja/pemimpin pemegang tahta kekuasaan; dan 5) Tiga penentu kebijakan dalam keadilan berbangsa dan bernegara. Panca Tata Gatra dimaksud, sejalan dengan kelima butir Pancasila yang kini digunakan sebagai dasar negara Republik Indonesia.
Mengungkap Makna Sejarah Nama Tempat: Studi Toponimi dan Pengaruh Kolonial di Asia dalam Manuskrip Serat Ngelmu Bumi Asia 1860 Sumarlina, Elis Suryani Nani; Pawestri, Wening; Darsa, Undang Ahmad; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Sudardi, Bani; Rasyad, Abdul
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 9 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v9i2.29934

Abstract

The study of toponymy and colonial influences in Asia in the SN manuscript is useful for making significant contributions to the understanding of toponymy, colonial influence, and historical context in Asia, especially through the lens of the Serat Ngelmu Bumi Asia 1860 manuscript. The purpose of this study is to analyze the history of place names that have been influenced by colonialism. Which places are written in the SNBA manuscript, namely a manuscript containing the geographical conditions of the Asian continent in 1860.  The methods used in this study are literature study, philological research methods, and toponymy studies. The results of this study indicate that place names in Asia, especially those recorded in the SNBA manuscript of 1860, reflect significant colonial influence. Many place names recorded in the SNBA manuscript, such as India Depan, India Belakang, and Ceylon, show changes that occurred due to decolonization and foreign cultural influences. Changes in place names often reflect the dominance and political interests of the colonizers. The colonizers used new names or changed place names to show their power. The use of foreign languages ​​in place naming, often derived from the language of the colonizer, influences the way place names are identified and used.
Existence of Sundanese Manuscripts as a Form of Intellectual Tradition in the Ciletuh Geopark Area Darsa, Undang Ahmad; Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v8i2.369

Abstract

The variety of Sundanese manuscripts are still scattered in individual communities, as well as those already stored in various libraries and museums in West Java. The Sundanese script is still stored in the Ciletuh Geopark, Sukabumi District. This research is interesting because of the discovery of several manuscripts around the southern Sukabumi area, especially at Surade, Ciemas, and Jampang Kulon areas. Descriptive method of comparative analysis that was used trying to describe the data in detail and thoroughly, analyze it carefully, and compare those target accurately between several texts studied. While the method of the study in the form of text critique method, referred to the method of a single script, through the standard edition. The method of content review used the method of cultural studies, which reveals the existence and function of the script pragmatically in the community, especially in the Ciletuh Geopark. The results of the research can be considered as "the documents and local wisdom of Sundanese culture", which deserves to be addressed wisely in the hope that the content contained in it is able to reveal the history of the life of Ciletuh Geopark, either through written tradition, folklore, and culture.
Keterjalinan Jampé, Jangjawokan, dan TOGA dalam Naskah Mantra Pengobatan: Peran dan Fungsinya di Masyarakat Adat Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v8i1.3916

Abstract

A Sundanese manuscript, created by the ancestors' inventiveness, is a cultural document containing local wisdom. The Medical Mantra Manuscript is one of them. It reveals the truths of numerous TOGA as well as the presence of mantras in an effort to overcome and cure various diseases in society. Sundanese Mantra is classified into the following categories: ajian, asihan, jampé, jangjawokan, pélét, rajah, and singlar. This research, however, solely looks at the interweaving of the texts of the Mantra Jampé and Jangjawokan with TOGA, whose duties and functions are still practiced by indigenous peoples in West Java and indigenous Baduy people in Banten. The descriptive analysis research method was used. Involve philological study methods, both codicological and textological, literary studies, and cultural studies, so that the results are helpful and serve as a literacy reference for other disciplines. The utilization of plant species, functions, dosages, methods of processing, and treatments done accompanied by the recital of'mantras' in the text of the Medicinal Manuscripts demonstrates the relationship between Jampé and Jangjawokan and TOGA. The findings of this study are expected to be valuable not only for literature and philology, but also for public health, pharmacy, nursing, medicine, communication science, literature, anthropology, and culture in general.
Etika berpolitik pemimpin masa lampau berbasis naskah Sunda Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
Jurnal IKADBUDI Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v12i2.58838

Abstract

Benar  adanya apabila dikatakan bahwa banyak kesulitan yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah  Sunda Kuno. Akan tetapi, harus disadari pula bahwa di dalam sebuah naskah Sunda kuno terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini.  Isi naskah Sunda Kuno mengungkap beragam ilmu yang bisa dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain saat ini, yang berkaitan dengan  historiografi tradisional, toponimi, pandangan hidup, sistem pemerintahan atau pembagian kekuasaan, konsep kepemimpinan, etika berpolitik,  dan  unsur-unsur kebudayaan  lainnya, sebagai bahan dalam upaya menggali, identitas masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Dengan demikian, upaya penggalian dan penggarapan naskah-naskah kuno perlu dilakukan secara sungguh-sungguh, intensif,  dan berkesinambungan. Teks naskah Sunda kuno yang sangat menarik untuk dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan etika berpolitik para pemimpin atau raja-raja Sunda masa lampau, yang eksistensinya terungkap dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, Fragmen Carita Parahiyangan, Amanat Galunggung, dan Sanghyang Hayu, yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Etika berpolitik raja-raja zaman dulu berkaitan erat dengan konsep kepeminpinan, sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan, serta karakter dari peminpin itu sendiri. Dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologi, komunikasi politik, historiografi tradisional, dan kajian budaya secara multidisiplin. Diharapkan mampu menungkap bagaimana etika berpolitik raja atau pemimpin Sunda masa silam, melalui naskah-naskah Sunda Kuno abad-16, yang akhirnya dapat membuka cakrawala dan wawasan ilmu pengetahuan bagi ilmu-ilmu lain secara multidisiplin.
FENOMENA TOGA BERBASIS NASKAH PENGOBATAN SEBAGAI PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT PENYERTA DI MASA PANDEMI COVID-19: FENOMENA TOGA BERBASIS NASKAH PENGOBATAN SEBAGAI PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT PENYERTA DI MASA PANDEMI COVID-19 Nani Sumarlina, Elis Suryani; Ahmad Darsa, Undang; Husen, Ike Rostikawati
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.4

Abstract

Naskah Sunda kuno sebagai warisan masa silam, belum begitu dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Padahal teks atau isinya penting untuk diinformasikan keberadaannya di masa kini, terutama yang berkaitan dengan tanaman obat keluarga (TOGA), manfaat, dosis, rahasia tatacara pemgolahan, dan tindak pengobatannya. Tugas filolog untuk menginformasikan kepada masyarakat, agar dapat dimanfaatkan oleh disiplin ilmu lain secara multidisiplin, khususnya naskah pengobatan yang berguna untuk mencegah dan menanggulangi penyakit penyerta yang dialami pasien Covid-19. Metode yang digunakan, deskriptif komparatif, dan metode kajian filologis, baik secara kodikologis maupun tekstologis dan kajian sosial budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beragam tanaman obat atau TOGA bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh, dan mengobati penyakit penyerta penderita. Hasil kajian ini berguna untuk bidang kedokteran, farmasi, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, keperawatan, pertanian, antropologi, dan leksikografi.