Asep Hidayatullah
Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Galuh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERTIKAIAN VERBAL DI DUNIA MAYA (FLAME WAR) DALAM FILM BUDI PEKERTI KARYA WREGAS BHANUTEJA Sri Noor Maolan; Hendaryan Hendaryan; Asep Hidayatullah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i1.20187

Abstract

Fenomena pertikaian verbal di dunia maya atau flame war merupakan bentuk kekerasan digital yang semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji representasi flame war dalam film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja serta merefleksikan relevansinya dalam pendidikan bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Fairclough, berdasarkan data dari adegan film yang merepresentasikan praktik flame war dan diperkuat oleh temuan-temuan dari studi sebelumnya. Dalam film, flame war dimanifestasikan melalui komentar kasar, klarifikasi yang dipelintir, keterlibatan publik yang masif, polarisasi opini, serta framing media yang menciptakan kekerasan simbolik. Konflik verbal tersebut menggambarkan lemahnya kontrol sosial di ruang digital dan bagaimana ruang daring menjadi arena penghakiman kolektif. Representasi tersebut mencerminkan realitas sosial yang kompleks dan dekat dengan kehidupan masyarakat digital masa kini. Film Budi Pekerti memperlihatkan potensi sinema sebagai media pembelajaran kontekstual dalam pendidikan bahasa Indonesia. Representasi flame war di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran etis, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan debat siswa dalam menghadapi tantangan komunikasi digital.
KEBANGGAAN SANTRI PUTRA TERHADAP BAHASA INDONESIA DI PONDOK PESANTREN MANAHIJUL HUDA: STUDI SIKAP BAHASA Hilmi Azizah Amatillah; Asep Hidayatullah; Siti Andini
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i1.20230

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana kebanggaan santri putra terhadap bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Manahijul Huda. Penelitian ini menjadi penting karena lingkungan pesantren dikenal sebagai ruang multibahasa yang memunculkan dinamika kebahasaan antara bahasa daerah, bahasa Arab, dan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, memerlukan afirmasi positif dalam bentuk sikap kebanggaan agar tidak tergeser dalam konteks komunikasi keagamaan dan keseharian santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan kuesioner. Subjek penelitian adalah 41 santri putra kelas X SMA Terpadu Manahijul Huda. Data dikumpulkan melalui angket sikap bahasa berbasis indikator kebanggaan menurut teori Garvin dan Mathiot (1968). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas santri menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi saat menggunakan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks formal seperti kegiatan organisasi, pelajaran, dan pidato. Selain itu, para santri memandang bahasa Indonesia sebagai simbol identitas nasional dan mendukung pelestariannya di lingkungan pesantren. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebanggaan berbahasa merupakan elemen penting dalam mempertahankan dan memperkuat fungsi bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa asing serta lokal.Kata Kunci: sikap bahasa; kebanggaan; bahasa Indonesia; pesantren; santri  AbstractAbstractThis study aims to uncover the pride expressed by male students toward the Indonesian language at the Manahijul Huda Islamic Boarding School. This research is important because the Islamic boarding school environment is known as a multilingual space that fosters linguistic dynamics between regional languages, Arabic, and Indonesian. Indonesian, as the national language, requires positive affirmation in the form of pride to prevent it from being displaced in the context of religious communication and the students' daily lives. This study used a qualitative descriptive approach, with data collection techniques consisting of literature review and questionnaires. The subjects were 41 10th-grade male students at Manahijul Huda Integrated High School. Data were collected through a language attitude questionnaire based on pride indicators according to the theory of Garvin and Mathiot (1968). The results show that the majority of students demonstrate high self-confidence when using Indonesian, especially in formal contexts such as organizational activities, lessons, and speeches. Furthermore, the students view Indonesian as a symbol of national identity and support its preservation within the Islamic boarding school environment. These findings indicate that language pride is a crucial element in maintaining and strengthening the function of Indonesian amidst globalization and the dominance of foreign and local languages. Keywords: language attitude; pride; Indonesian; Islamic boarding school; students