Lina Hastuti
Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Right of Navigation V. Freedom of Navigation: Balancing Rights and Obligation in Archipelagic Sea-Lane Passage Enny Narwati; A Indah Camelia; Lina Hastuti
Jurnal Hukum Vol 42, No 3 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/jh.v42i3.47212

Abstract

This article examines three unresolved legal ambiguities within the archipelagic sea lanes passage (ASLP) regime under Part IV of the United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS): the permissible scope of an archipelagic state regulatory authority; the enforceability of Part XII UNCLOS environmental obligations without impeding navigation; and the legal consequences of deviation from designated sea lane routes. Employing doctrinal legal research through a treaty interpretation methodology derived from Articles 31–33 of the Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 (VLCT) and Indonesia’s Archipelagic Sea Lanes (IASP) as operationalised ASLP case study. This article advances three original arguments: First, ASLP is conceptually grounded in right of Navigation (RoN) – a conditional, treaty-based entitlement – rather than in the customary-law derived Freedom of Navigation (FoN), a distinction carrying material consequences for coastal state regulatory competence. Second, UNCLOS Part XII environmental obligations function as lex generalis alongside the lex specialis of Part IV, permitting proportionate emergency environmental intervention without nullifying navigational rights. Third, unjustified departure from designated routes activates full scope of archipelagic supervisory authority, including the innocent passage framework. These findings contribute to the cooperative governance of strategically critical maritime corridors and inform undesignated ASLP regimes globally.
Keberlakuan Hukum Humaniter Internasional terhadap Satelit Starlink sebagai Objek Dual Use dalam Konflik Rusia Ukraina Sekar dwiyanti; Lina hastuti
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 6 No. 4 (2026): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v6i4.8344

Abstract

Hukum Humaniter Internasional bertujuan untuk mengatur cara dan alat berperang serta memberikan perlindungan kepada pihak yang tidak terlibat dalam pertempuran, seperti warga sipil dan objek sipil. Dalam konflik bersenjata modern, seperti konflik Rusia-Ukraina, penggunaan teknologi canggih seperti satelit Starlink menimbulkan tantangan baru dalam penerapan Hukum Humaniter Internasional. Satelit Starlink, yang awalnya dirancang untuk keperluan sipil, kini digunakan untuk mendukung operasi militer Ukraina, memunculkan pertanyaan apakah satelit ini dapat dikategorikan sebagai dual-use object berdasarkan perspektif Hukum Humaniter Internasional. Penelitian ini akan membahas apakah starlink yang merupakan satelit Ukraina bisa dikategorikan dual use object dalam prespektif Hukum Humaniter Internasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan fokus pada analisis dokumen berdasarkan sumber hukum dan pendekatan peraturan perundang-undangan untuk mengkaji norma-norma hukum dalam regulasi yang relevan serta pendekatan konseptual untuk menganalisis teori serta prinsip hukum yang mendasari permasalahan yang diteliti. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Satelit Starlink, awalnya untuk keperluan sipil namun dalam perkembangannya dipakai juga untuk kepentingan militer terkait dengan objek yang demikian cenderung berstatus sebagai objek militer