ABSTRAK Demam typhoid merupakan penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi yaitu suatu bakteri gram-negatif.¹ Demam merupakan gejala utama demam typhoid. Demam dengan durasi panjang dapat membahayakan keselamatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik usia, jenis kelamin, serta jenis pengobatan pada pasien anak penderita demam tifoid yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Yw-Umi Makassar periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data sekunder berupa rekam medis sebanyak 133 pasien anak berusia <18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus demam tifoid paling banyak terjadi pada bulan Maret (13,5%). Berdasarkan distribusi usia, kelompok usia 1–5 tahun merupakan yang paling dominan (51,1%), diikuti usia 6–10 tahun (34,6%). Pasien laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, masing-masing 54,9% dan 45,1%. Terkait terapi, obat yang paling sering digunakan adalah paracetamol (23,3%) dan ceftriaxone (18,8%), disertai pemberian cairan infus dan terapi pendukung lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa demam tifoid pada anak di Kota Makassar masih tinggi terutama pada usia balita, dengan kecenderungan lebih banyak terjadi pada laki-laki serta memerlukan terapi kombinasi antipiretik dan antibiotik. ABSTRACT Typhoid fever is a bacterial infection caused by Salmonella typhi, a gram-negative bacterium.1 Fever is the main symptom of typhoid fever. Prolonged fever can be life-threatening for children. This study aims to identify the age distribution, gender characteristics, and treatment patterns among pediatric patients with typhoid fever hospitalized at Ibnu Sina YW-UMI Hospital Makassar during January–December 2024. A descriptive design was employed using secondary data from medical records of 133 children under 18 years of age. The findings revealed that typhoid fever cases peaked in March (13.5%). Children aged 1–5 years represented the largest proportion of cases (51.1%), followed by those aged 6–10 years (34.6%). Male patients accounted for a higher proportion than females, with 54.9% and 45.1%, respectively. The most commonly administered treatments were paracetamol (23.3%) and ceftriaxone (18.8%), along with intravenous fluids and other supportive therapies. These results indicate that pediatric typhoid fever remains prevalent in Makassar, especially among young children, with higher incidence in males, and commonly requires combined antipyretic and antibiotic therapy.