Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PROXIMATE ANALYSIS, CRUDE FIBER, AND AMINO ACID PROFILE OF SEAWEED CRACKERS (EUCHEUMA COTTONI) FORTIFIED WITH YELLOWFIN TUNA (THUNNUS ALBACARES) BONE AND SKIN FLOUR Arwita Irawati; Zazkia Nurul Izzyah; Asjun Asjun
INASUA: Jurnal Teknologi Hasil Perikanan Vol 6 No 2 (2026): INASUA: Jurnal Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jinasua.2026.6.2.46

Abstract

Seaweed crackers based on Eucheuma cottoni are potential functional food products when fortified with protein- and mineral-rich ingredients. This study aimed to analyze the proximate composition, crude fiber content, and amino acid profile of seaweed crackers fortified with yellowfin tuna (Thunnus albacares) bone and skin flour at various concentrations. A completely randomized design (CRD) was applied with five treatment levels of tuna bone and skin flour: F1 (0%), F2 (5%), F3 (10%), F4 (15%), and F5 (20%), each with three replications. Proximate analysis followed AOAC (2016) methods covering moisture, ash, fat, protein, crude fiber, and carbohydrate content. The amino acid profile of the selected treatment was analyzed by HPLC (IK.LP-04.7-LT-1.0 method). Results showed that fortification significantly affected (p<0.05) all proximate parameters. The selected treatment F4 (15%) had moisture 5.03%; ash 7,72%; crude fat 17.00%; crude protein 0.63%; crude fiber 10.70%; and carbohydrate 58.91%. Amino acid profile of F4 showed total amino acids of 10,88% (w/w), with glutamate as the highest (2.74%), followed by glycine (1.96%) and arginine (1.13%). The presence of eight complete essential amino acids makes these fortified seaweed crackers a high-nutritional-value functional food.
Pengaruh Pengukusan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Penambahan Starter (Lactobacillus acidophillus) Terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensoris Bekasam Aula Sakinah; Rinto Rinto; Asjun Asjun; Anjas Setiawan
Marinade Vol 9 No 01 (2026): April, 2026
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/marinade.v9i01.8442

Abstract

Bekasam ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas fermentasi spontan khas kuliner Palembang, Sumatera Selatan, yang kembali mendapat perhatian ilmiah karena profil senyawa bioaktifnya. Bakteri asam laktat (BAL) menggerakkan transformasi biokimia selama proses penggaraman dengan menghasilkan metabolit proteolitik dan lipolitik yang meningkatkan ketercernaan serta memberikan atribut fungsional, termasuk aktivitas penurun kolesterol. Meskipun data komposisi kimia bekasam sudah tersedia, pengaruh gabungan antara pengukusan sebelum fermentasi dan inokulasi starter terkontrol terhadap keseluruhan atribut fisikokimia dan sensoris belum pernah dilaporkan secara komprehensif. Penelitian ini mengkaji pengaruh interaksi tiga durasi pengukusan (0, 5, dan 10 menit pada suhu 100°C) serta ada tidaknya inokulum L. acidophilus menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan tiga ulangan per sel (n = 18 satuan percobaan). Peubah respons mencakup komposisi proksimat (kadar air, protein, lemak, abu, karbohidrat), kekerasan instrumental (gf), koordinat warna tristimulus (lightness, chroma, hue), serta evaluasi hedonik terhadap kenampakan, tekstur, aroma, dan rasa oleh 25 panelis semi terlatih. Pengukusan dan inokulasi masing-masing memberikan efek utama yang nyata terhadap kadar air (57,19–60,73%), protein kasar (18,68–21,99%), dan lemak-eter (5,07–9,34%). Durasi pengukusan secara tambahan mengubah kadar abu (6,93–9,87%), karbohidrat (2,51–5,92%), dan nilai chroma (6,13–13,43%), sedangkan suplementasi starter tidak memberikan pengaruh nyata pada ketiga parameter tersebut. Kekerasan (479,33–629,80 gf), lightness (50,10–60,63%), dan hue (32,43–55,60°) tidak berbeda nyata di seluruh perlakuan. Skor hedonik hanya berbeda nyata pada kenampakan visual; perlakuan pengukusan 10 menit dengan inokulasi (A3B2) meraih preferensi panelis tertinggi (3,64/5) sekaligus komposisi proksimat terbaik, sehingga ditetapkan sebagai kondisi produksi optimal.