Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DEVELOPMENT OF A HALAL SEAFOOD CULINARY TOURISM MODEL AS THE MAIN ATTRACTION OF ISLAMIC TOURISM DESTINATIONS IN ACEH: INTEGRATION OF PROCESSING TECHNOLOGY, HALAL CERTIFICATION, AND MUSLIM TOURIST EXPERIENCE Aula Sakinah; Eka Octavian Pranata; Isnaliana
El-Mubarak: Islamic Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2026): El-Mubarak - Islamic Studies Journal
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/emisja.v3i1.714

Abstract

This study develops an integrated model of halal seafood culinary tourism (HSCT-Model) as a primary competitive attraction for Islamic tourism destinations in Aceh Province, Indonesia. The research integrates three disciplinary dimensions: halal seafood processing technology, halal certification management, and Muslim tourist experience. A sequential explanatory mixed-methods design was employed, comprising: (1) laboratory analysis of three signature Acehnese seafood products (keumamah, eungkot paya, and dendeng ikan tenggiri); (2) a structured survey of 220 Muslim tourists (domestic and international) analysed using Structural Equation Modelling via Partial Least Squares (SEM-PLS, SmartPLS 4.0); and (3) two-round stakeholder Focus Group Discussions (FGDs) for model validation. Findings reveal that halal certification trust exerts the strongest influence on Muslim tourist satisfaction (β = 0.421, p < 0.001), while processing technology quality mediates the relationship between halal compliance and food tourism experience (β = 0.318, p < 0.01). Laboratory analysis confirms that all three products comply with SNI halal food safety standards. The resultant HSCT-Model integrates four pillars: halal processing standards, certification traceability, culinary experience design, and digital marketing for Muslim travellers. This model offers a replicable governance framework for Muslim-majority coastal destinations seeking to leverage halal food heritage as a strategic tourism differentiator.
Pengaruh Pengukusan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Penambahan Starter (Lactobacillus acidophillus) Terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensoris Bekasam Aula Sakinah; Rinto Rinto; Asjun Asjun; Anjas Setiawan
Marinade Vol 9 No 01 (2026): April, 2026
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/marinade.v9i01.8442

Abstract

Bekasam ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas fermentasi spontan khas kuliner Palembang, Sumatera Selatan, yang kembali mendapat perhatian ilmiah karena profil senyawa bioaktifnya. Bakteri asam laktat (BAL) menggerakkan transformasi biokimia selama proses penggaraman dengan menghasilkan metabolit proteolitik dan lipolitik yang meningkatkan ketercernaan serta memberikan atribut fungsional, termasuk aktivitas penurun kolesterol. Meskipun data komposisi kimia bekasam sudah tersedia, pengaruh gabungan antara pengukusan sebelum fermentasi dan inokulasi starter terkontrol terhadap keseluruhan atribut fisikokimia dan sensoris belum pernah dilaporkan secara komprehensif. Penelitian ini mengkaji pengaruh interaksi tiga durasi pengukusan (0, 5, dan 10 menit pada suhu 100°C) serta ada tidaknya inokulum L. acidophilus menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan tiga ulangan per sel (n = 18 satuan percobaan). Peubah respons mencakup komposisi proksimat (kadar air, protein, lemak, abu, karbohidrat), kekerasan instrumental (gf), koordinat warna tristimulus (lightness, chroma, hue), serta evaluasi hedonik terhadap kenampakan, tekstur, aroma, dan rasa oleh 25 panelis semi terlatih. Pengukusan dan inokulasi masing-masing memberikan efek utama yang nyata terhadap kadar air (57,19–60,73%), protein kasar (18,68–21,99%), dan lemak-eter (5,07–9,34%). Durasi pengukusan secara tambahan mengubah kadar abu (6,93–9,87%), karbohidrat (2,51–5,92%), dan nilai chroma (6,13–13,43%), sedangkan suplementasi starter tidak memberikan pengaruh nyata pada ketiga parameter tersebut. Kekerasan (479,33–629,80 gf), lightness (50,10–60,63%), dan hue (32,43–55,60°) tidak berbeda nyata di seluruh perlakuan. Skor hedonik hanya berbeda nyata pada kenampakan visual; perlakuan pengukusan 10 menit dengan inokulasi (A3B2) meraih preferensi panelis tertinggi (3,64/5) sekaligus komposisi proksimat terbaik, sehingga ditetapkan sebagai kondisi produksi optimal.