Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Potensi Terjadinya Korosi Pada Pembakaran Batubara Dan Biomassa Ampas Tebu Dengan Metode Active Oxidation Rate Mellany, Nahemia Sekar; Shofa Rijalul Haq; Muhammad Faiz Shafiyurrahman; Rizki Khoiriah Nasution
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol. 14 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v14i2.101464

Abstract

Penilaian terhadap kemungkinan terjadinya korosi pada batubara maupun ampas tebu diarahkan guna mengkaji kecenderungan Cl-induced active oxidation pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan rasio 2S/Cl sebagai parameter penentu utama. Objek pengamatan mencakup batubara sub-bituminus, batubara lignit, serta ampas tebu sebagai sampel uji. Untuk memperoleh komposisi kimia setiap bahan bakarnya, dilaksanakan serangkaian analisis yang meliputi proksimat, ultimat, dan X-Ray Fluorescence (XRF) yang dipergunakan untuk mengukur kandungan sulfur (S) dan klorin (Cl) sebagai dasar perhitungan rasio 2S/Cl. Dari hasil analisis tersebut diperoleh nilai 2S/Cl sebesar 35,06 pada batubara sub-bituminus (minor corrosion), 3,12 pada batubara lignit (medium corrosion), dan 1,26 pada ampas tebu (major corrosion). Data tersebut menegaskan bahwasanya ampas tebu ada pada tingkatan kerentanan korosi paling tinggi karena dominasi klorin yang tidak diimbangi oleh sulfur yang berfungsi sebagai pembentuk lapisan pelindung sulfat. Pengimplementasian co-firing dengan proporsi biomassa ≤5% terbukti mampu menjaga kestabilan kinerja termal, mengurangi emisi gas buang, serta membatasi perkembangan korosi. Kondisi tersebut menegaskan bahwa ampas tebu masih layak dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bersama batubara karena didukung karakteristik termal maupun kandungan volatil yang dimilikinya. Dalam hal tersebut, pengendalian korosi dapat dilaksanakan dengan efektif melalui pengaturan proporsi campuran bahan bakar maupun pengimplementasian perlakuan awal, yakni water leaching, sehingga efisiensi pembakaran mampu ditingkatkan sekaligus mendukung pengembangan energi yang lebih bersih maupun berkelanjutan di PLTU di Indonesia.