Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Pola Asuh Oran Tua Dengan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Umur 3-4 Tahun Desa Ngunut Kecamatan Dander Natasya Tri Erlistanti; Gunarti Lestari
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan motorik halus anak usia 3-4 tahun. Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena terdapat permasalah mengenai pola asuh orang tua dengan perkembangan motorik halus anak. Dibuktikan dengan anak-anak masih ada yang kurang dalam perkembangan motorik halusnya. Tujuan dari penelitian untuk meneliti pola asuh demokratis, otoriter, permisif dengan perkembangan motorik halus anak di Desa Ngunut. Manfaat dari penelitian ini harapanya untuk memberikan wawasan kepada orang tua, lembaga, akademisi, mengenai pentingnya pola asuh yang tepat dalam perkembangan motorik halus anak. Penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dan menggunakan desain korelasional. Data dikumpulkan dari orang tua yang memiliki anak usia 3-4 tahun di Desa Ngunut Kecamatan Dander. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 45 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner pola asuh dan perkembangan motorik halus. Teknik analisis data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji linearitas, uji hipotesis. Pada penelitian ini yaitu terdapat hubungan pola asuh orang tua terhadap perkembangan motorik halus anak usia 3-4 tahun didapatkan nilai demokratis dengan Perkembangan motorik halus nilai korelasi r=-0,741 dengan p=0,000 terdapat hubungan negatif yang kuat dan signifikan, Otoriter nilai korelasi r=-0,042 dengan p=0,782 sangat lemah tidak ada hubungan, Permisif nilai korelasi r=0,366 dengan p=0,013 semakin tinggi penerapan pola asuh permisif semakin baik perkembangan motorik halus anak. Saran Untuk orang tua agar orang tua lebih memperhatikan perkembangan motorik sang anak sesuai dengan tahapan usianya.
Peran Pengasuh dalam Menstimulasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 3-5 Tahun di Panti Asuhan Kasih Agape Pakis Kota Surabaya Kristin Hana Kezia; Gunarti Lestari
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengasuh adalah orang yang mempunyai kewajiban memberikan perlindungan, kasih sayang, serta mengajarkan kepada anak-anak asuh untuk berinteraksi sosial agar nanti menjadi bekal untuk dirinya sendiri dan juga diharapkan mampu mengontrol perkembangan emosionalnya agar kelak menjadi anak yang memiliki empati, simpati, dan juga tentunya kepribadian yang baik. Salah satu lembaga non formal yang memberikan itu adalah panti asuhan kasih agape Pakis Kota Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganilis peran pengasuh dan perkembangan sosial emosional anak di panti asuhan kasih agape pakis kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, informan penelitian ini ada pengasuh dan kepala yayasan. Data yang dikumpulkan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengasuh menjalankan perannya secara optimal melalui interaksi afektif, pendampingan kegiatan harian, dan pembiasaan sosial yang mendukung kesadaran diri, pengendalian emosi, dan keterampilan sosial anak. Perilaku pengasuh terbukti menjadi model penting dalam membentuk perkembangan sosial emosional anak usia dini di lingkungan panti. Peran perilaku dan komunikasi interaksi sosial menjadi faktor dominan dalam proses stimulasi tersebut. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelatihan dan evaluasi rutin untuk meningkatkan kualitas pengasuhan di panti asuhan.
Designing an Adaptive Curriculum Framework for Nonformal Education in the Era of Artificial Intelligence: A Digital Andragogy Approach Rofik Rosyanafi; Gunarti Lestari; Rivo Nugroho; Kharizha Krishnandya; Mohammad Wasil; Febritesna Nuraini; Edwin Jaimes Villaflor
Journal of Pedagogy and Education Science Vol 5 No 02 (2026): Article in Press - Journal of Pedagogy and Education Science
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56741/IISTR.jpes.001619

Abstract

The rapid advancement of artificial intelligence (AI) has redefined the dynamics of adult and community learning, calling for curriculum models that combine technological adaptability with human-centered pedagogy. This study designs and validates an Adaptive Curriculum Framework for Nonformal Education (ACF-NE) grounded in digital andragogy principles, AI-based adaptivity, and community contextualization. Employing a Design and Development Research (DDR) approach, data were collected through document analysis, focus group discussions, and expert validation across five community learning centers and two vocational institutions in East Java, Indonesia. The iterative design process produced three core dimensions—(1) learner autonomy and experiential relevance, (2) AI-driven personalization and feedback, and (3) socio-cultural integration of community learning. Quantitative validation involving four experts yielded high consensus scores across relevance (M = 4.68), clarity (M = 4.41), feasibility (M = 4.37), and innovation (M = 4.42). Thematically, results indicate that AI can enhance adult autonomy when positioned as a facilitative partner rather than an instructional replacement. The final ACF-NE model integrates adaptive scaffolding with human mediation, establishing a co-learning ecology that aligns digital personalization with cultural responsiveness. This study contributes theoretically by extending andragogy into the AI era through the construct of contextual adaptivity, and practically by offering a replicable framework for human-centered digital transformation in nonformal education.