Jumlah lansia di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan mencapai 48,2 juta jiwa pada tahun 2035, sehingga status gizi menjadi isu penting karena berperan dalam kesehatan dan kesejahteraan lansia; berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara depresi dan status gizi, namun hasilnya masih bervariasi sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara depresi dan status gizi pada lansia. Metode yang digunakan adalah penelitian cross-sectional yang dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 pada bulan Oktober–November 2025. Depresi dinilai menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh yang dihitung dari berat badan dan tinggi badan, serta pengukuran lingkar lengan atas. Hasil penelitian pada 121 responden menunjukkan bahwa pada sebanyak 39,4% lansia mengalami depresi dan jumlah lansia yang memiliki status gizi kurang sebanyak 28,9%, normal 33,8% dan sisanya memiliki status gizi berlebih. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara depresi dan status gizi pada lansia, namun dari sebaran data terlihat bahwa responden dengan status gizi normal lebih sedikit yang mengalami depresi. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi depresi pada lansia tidak secara langsung berkaitan dengan status gizi, namun juga dipengaruhi faktor lain. Disarankan dilakukan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal serta mempertimbangkan faktor lainnya seperti asupan makan, penyakit kronis, dan dukungan sosial.