Marjani Khoirunnisa
Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Status Gizi Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Posyandu Wilayah Puskesmas Garuda Periode Tahun 2025: The Relationship Between Nutritional Status and the Incidence of Stunting in Toddlers at the Integrated Health Post (Posyandu) in the Garuda Community Health Center Area in the 2025 Period Indah Khoerunisa; Fifi Citra Wiryadi; Marjani Khoirunnisa
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v12i1.356

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menjadi indikator penting kualitas kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting nasional mencapai 21,6%, sedangkan target Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2024 adalah menurunkannya hingga di bawah 14%. Di wilayah kerja Puskesmas Garuda, pendataan awal tahun 2024 menunjukkan dari 592 balita yang terdaftar, sebanyak 76 balita (12,8%) teridentifikasi mengalami stunting. Angka ini cukup signifikan meskipun mayoritas balita memiliki status gizi baik. Kondisi ini menjadi dasar penelitian untuk menilai lebih lanjut hubungan status gizi dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas GarudaPenelitian ini dilaksanakan di Posyandu Desa Cempaka dengan desain analitik cross sectional dan total sampling sebanyak 592 balita. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan signifikan antara status gizi dengan kejadian stunting. Balita dengan status gizi kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan balita bergizi baik. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi peningkatan status gizi untuk menurunkan prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Garuda.   Stunting is a chronic nutritional problem and an important indicator of public health quality in Indonesia. According to the 2022 Indonesia Nutritional Status Survey (SSGI), the national prevalence of stunting reached 21.6%, while the Sustainable Development Goals (SDGs) target for 2024 is to reduce it to below 14%. In the working area of Garuda Primary Health Center, early 2024 data showed that out of 592 registered children under five, 76 (12.8%) were identified as stunted. This figure is quite significant even though the majority of children have good nutritional status. This condition formed the basis of the present study to further assess the relationship between nutritional status and stunting in the working area of Garuda Primary Health Center.This study was conducted at the Posyandu in Cempaka Village using an analytical cross-sectional design with a total sampling of 592 children under five. The Chi-Square test yielded a p-value of 0.001 (p < 0.05), indicating a significant relationship between nutritional status and stunting. Children with poor nutritional status were at a higher risk of experiencing stunting compared to those with good nutrition. These findings underscore the importance of nutritional status improvement interventions to reduce the prevalence of stunting in the working area of Garuda Primary Health Center.       
Gambaran Siklus Menstruasi Pada Remaja Putri Kelas VIII SMP Putra Siliwangi: Description Of The Menstrual Cycle In Female Adolescents In Eighth Grade Putra Siliwangi Junior High School Marjani Khoirunnisa; Lia Nurwiliani; Elis Novita
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v12i2.413

Abstract

Gangguan siklus menstruasi merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang kerap dialami remaja putri, terutama pada masa awal menarke. Bentuk ketidakteraturan yang muncul dapat berupa polimenorea, oligomenorea, frekuensi menstruasi rendah, maupun durasi yang singkat, yang umumnya dipengaruhi oleh faktor hormonal, stres, gizi, serta gaya hidup. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kondisi gangguan siklus menstruasi pada siswi kelas VIII SMP Putra Siliwangi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 75 remaja putri melalui teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya gangguan siklus pada sebagian remaja, yaitu 30% polimenorea, 7% oligomenorea, sedangkan 63% memiliki siklus normal. meskipun sebagian besar remaja menunjukan siklus yang normal,proporsi yang mengalami gangguan tetap cukup signifikan. diperlukan upaya skrining banyaknya gangguan siklus menstruasi untuk meningkatkan kesadaran pemahaman remaja mengenai pentingnya pola hidup sehat guna mencegah terjadinya gangguan menstruasi. Abstract Menstrual cycle disorders are among the reproductive health problems commonly experienced by adolescent girls, especially during the early stages of menarche. The irregularities that may occur include polymenorrhea, oligomenorrhea, low menstrual frequency, and shortened duration, which are generally influenced by hormonal factors, stress, nutrition, and lifestyle. This study aims to describe the condition of menstrual cycle disorders among eighth-grade female students at SMP Putra Siliwangi. This research employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 75 female students, selected through total sampling. The research instrument used was a questionnaire that had been tested for validity and reliability.The results showed that some adolescents experienced menstrual disorders, with 30% having polymenorrhea, 7% oligomenorrhea, and 63% having normal menstrual cycles. Although the majority of students exhibited normal cycles, the proportion experiencing menstrual disorders remained quite significant. Therefore, screening efforts for menstrual cycle disorders are necessary to enhance adolescents’ awareness and understanding of the importance of maintaining a healthy lifestyle to prevent menstrual disturbances.