Hermeneutics is a method, art, and theory of interpretation that has developed into an important discipline in philosophy and theology, particularly in understanding religious texts critically and contextually. Its development shows that the meaning of a text is not only determined by its literal sound, but also influenced by the historical, cultural, social context, and the experiences of its readers. In contemporary Islamic studies, hermeneutics has become a relevant approach to addressing various modern issues that cannot always be resolved through textual interpretation alone. Based on this, this study aims to compare the concepts of liberation hermeneutics developed by Muhammad Arkoun and Farid Esack as two figures who have a great interest in the renewal of Islamic thought. Through a study of the main works of these two thinkers, this study seeks to identify similarities and differences in the paradigms, methods, and interpretive orientations they offer. Muhammad Arkoun emphasizes the importance of deconstructing established religious reasoning in order to open up space for a more critical, inclusive, and rational understanding of Islam. Meanwhile, Farid Esack developed a liberation-oriented hermeneutics by placing the values of justice, equality, and siding with oppressed groups as the main foundations in interpreting the Qur'an. Through comparative and contextual analysis, this study hopes to explain the contributions of these two figures in developing a paradigm of Islamic hermeneutics that is more responsive to the challenges of the times. Furthermore, this study seeks to demonstrate that liberation hermeneutics not only frees texts from rigid and dogmatic interpretations but also encourages Muslims to utilize religious teachings as the basis for realizing social justice, equality, respect for human dignity, and a more inclusive and civilized societal transformation. Abstrak Hermeneutika merupakan metode, seni, sekaligus teori penafsiran yang berkembang menjadi salah satu disiplin penting dalam filsafat dan teologi, terutama dalam memahami teks-teks keagamaan secara kritis dan kontekstual. Perkembangannya menunjukkan bahwa makna suatu teks tidak hanya ditentukan oleh bunyi literalnya, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sejarah, budaya, sosial, dan pengalaman pembacanya. Dalam studi Islam kontemporer, hermeneutika menjadi pendekatan yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan modern yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui penafsiran tekstual semata. Atas dasar itu, penelitian ini bertujuan membandingkan konsep hermeneutika pembebasan yang dikembangkan oleh Muhammad Arkoun dan Farid Esack sebagai dua tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pembaruan pemikiran Islam. Melalui kajian terhadap karya-karya utama kedua pemikir tersebut, penelitian ini berupaya mengidentifikasi persamaan dan perbedaan paradigma, metode, serta orientasi penafsiran yang mereka tawarkan. Muhammad Arkoun menekankan pentingnya dekonstruksi terhadap nalar keagamaan yang mapan guna membuka ruang bagi pemahaman Islam yang lebih kritis, inklusif, dan rasional. Sementara itu, Farid Esack mengembangkan hermeneutika yang berorientasi pada pembebasan dengan menempatkan nilai keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan kepada kelompok tertindas sebagai landasan utama dalam menafsirkan Al-Qur'an. Melalui analisis komparatif dan kontekstual, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kontribusi kedua tokoh dalam membangun paradigma hermeneutika Islam yang lebih responsif terhadap tantangan zaman. Selain itu, penelitian ini juga berupaya menunjukkan bahwa hermeneutika pembebasan tidak hanya membebaskan teks dari penafsiran yang kaku dan dogmatis, tetapi juga mendorong umat Islam untuk menjadikan ajaran agama sebagai dasar dalam mewujudkan keadilan sosial, kesetaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta transformasi masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadaban.