Junifer Siregar
Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Adat Sayur Matua Dalam Budaya Batak Simalungun (Kajian Semiotika) Defi Oftafiya Saragih; Marlina Agkris Tambunan; Junifer Siregar; Jumaria Sirait; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v9i2.2484

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Adat Sayur Matua dalam Budaya Batak Simalungun (Studi Semiotik). Adat Sayur Matua dalam Budaya Batak Simalungun merupakan upacara penghormatan tertinggi bagi individu yang meninggal dalam keadaan sempurna (telah menikahkan semua anak-anaknya dan melihat cucu-cucunya), yang melambangkan kesempurnaan hidup dan kemenangan spiritual yang dirayakan dengan sukacita. Melalui teori semiotik Peirce, upacara ini dianalisis sebagai sistem tanda yang kaya, di mana berbagai unsur ritual seperti kain duka, musik gual, dan tarian tor-tor sombah berfungsi sebagai Representamen (tanda). Elemen-elemen ini diklasifikasikan sebagai Ikon (kemiripan fisik dengan status), Indeks (hubungan sebab-akibat yang menunjukkan tingkat upacara), dan terutama Simbol (konvensi budaya nilai-nilai), yang secara kolektif merujuk pada Objek dalam bentuk status sosial mulia almarhum dan nilai-nilai budaya mulia Simalungun. Interpretasi (Interpretant) yang muncul dari rangkaian tanda-tanda ini merupakan penegasan kembali nilai-nilai tanggung jawab, solidaritas kekerabatan, dan penghormatan terhadap leluhur, menjadikannya media komunikasi budaya yang efektif untuk meneruskan filosofi "Habonaron Do Bona Bona" (Kebenaran adalah dasar).