Immanuel Doclas Belmondo Silitonga
Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Makna Mamogoti Bagas Sibaganding Tua Budaya Adat Batak Toba (Kajian Semiotika) Agnes Petriciana Simarmata; Vita Riahni Saragih; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga; Jumaria Sirait; Junifer Siregar
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v9i2.2506

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Makna Mamogoti Bagas Sibaganding Tua Budaya Adat Batak Toba (Kajian Semiotika). Berdasarkan hsil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan tentang kajian semiotika mamogoti bagas sibaganding tua budaya Batak Toba, maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut:Mamogoti bagas sibaganding tua mengungkapkan bahwa acara ini merupakan budaya Batak Toba: ungkapan syukur atas rezeki rumah baru (Mamogoti Bagas) menjadikannya sebuah teks kaya yang dapat diurai melalui teori Charles Sanders Peirce. Fokus semiotika pada lima elemen menunjukkan bagaimana benda-benda ritual bertransformasi menjadi tanda sosial dan spiritual. Dekke arsik berfungsi ikonik dengan bentuknya yang utuh dan tidak terpotong, merepresentasikan keutuhan, keberkahan, dan pengharapan agar penghuni rumah baru mencapai keberuntungan seperti ikan yang selalu berlimpah; sedangkan Tudu-tudu sipangaon (kepala hewan) adalah ikon yang menegaskan pengakuan terhadap status sosial pemberi dan penerima, mencerminkan hierarki dan penghormatan. Kemudian, ulos bintang maratur bertindak sebagai indeks dari doa dan harapan agar kehidupan dalam rumah baru tertata rapi (maratur), menunjuk pada kerukunan dan kedamaian keluarga. Selanjutnya, boras sipir ni tondi adalah indeks yang berfungsi memperkuat semangat (tondi) dan keselamatan penghuni rumah. Puncaknya, itak gurgur menjadi simbol berkat dan pengharapan yang secara ritual harus "ditelan" atau diresapi oleh keluarga, mewakili penyerapan energi positif untuk kebahagiaan dan kemakmuran. Secara keseluruhan, mamogoti bagas sibaganding tua adalah demonstrasi kearifan lokal yang menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan sesama, memastikan bahwa rumah baru tidak
Analisis Kajian Ekofeminisme Dalam Novel Perempuan Yang Menunggu Di Lorong Menuju Laut Karya Dian Purnomo Agnes Febrianty Sijabat; Marlina Agkris Tambunan; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga; Junifer Siregar; Vita Riahni Saragih
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v8i2.2512

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Kajian Ekofeminisme Dalam Novel Perempuan Yang Menunggu Di Lorong Menuju Laut Karya Dian Purnomo. Berdasarkan hasil analisis dari novel “Perempuan Yang Menunggu Di Lorong Menuju Laut” Karya Dian Purnomo dengan menggunakan teori Ekofeminisme menurut Vandana Shiva, ditemukan bahwa 3 prinsip tersebut tercermin secara signifikan dalam karya tersebut. Pertama, prinsip pemiskinan terhadap lingkungan, perempuan dan anak-anak tercermin melalui gambaran penderitaan akibat kerusakan alam yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya perempuan. Eksploitasi lingkungan menyebabkan penurunan kualitas hidup, hilangnya sumber daya, dan ketimpangan sosial yang memperdalam penderitaan manusia. Meski berada dalam situasi sulit, tokoh-tokoh perempuan digambarkan tetap tangguh dan berjuang mempertahankan keseimbangan hidup bersama alam. Kedua, prinsip pengetahuan perempuan masyarakat adat dan pelestarian keanekaragaman hayati tampak dari peran perempuan adat yang memahami hubungan spiritual dengan alam serta menjaga kelestarian lingkungan melalui kearifan lokal. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel menampilkan nilai-nilai penghormatan terhadap bumi dan kehidupan, sekaligus menunjukkan kesadaran ekologis bahwa menjaga alam berarti menjaga keberlanjutan manusia itu sendiri. Ketiga, prinsip kebebasan menurut perempuan chipko terlihat melalui keberanian tokoh-tokoh perempuan dalam menolak penindasan, ketidakadilan, serta praktik perusakan lingkungan. Kebebasan yang dimaksud bukan hanya kebebasan individu, tetapi juga kemampuan untuk menentukan sikap, melawan ketidakadilan, dan memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang bersih dan adil.Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan, peneliti menarik kesimpulan bahwa dalam novel “Perempuan Yang Menunggu Di Lorong Menuju Laut” Karya Dian Purnomo diperoleh 60 data yang mewakili ketiga prinsip tersebut, dengan rincian 19 data terkait pemiskinan terhadap lingkungan dan anak-anak, 14 data berkaitan dengan pengetahuan masyarakat adat serta pelestarian keanekaragaman hayati, dan 27 data menggambarkan konsep kebebasan menurut perempuan Chipko. Hal ini menunjukkan bahwa karya Dian Purnomo tidak hanya menyuarakan persoalan perempuan, tetapi juga memperlihatkan keterhubungan antara perjuangan perempuan dan keberlangsungan alam