Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERSEPSI PETERNAK SAPI TRADISIONAL TERHADAP PENERAPAN TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN DI ACEH TENGGARA Muttaqinullah RS; Joharsah Joharsah; Hadirin Hadirin; Kartono Kartono; Sudarma JA; Aiva Viforit; Unchu Maiwanda; Prastika Prastika
Kandang : Jurnal Peternakan Vol. 18 No. 2 (2026): Edisi Juli - Desember Tahun 2026 IN PROGRESS
Publisher : Prodi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jkd.v18i2.8730

Abstract

Produksi Karkas daging sapi di Provinsi Aceh terus mengalami peningkatan sebagaimana data yang dilaporkan oleh BPS Aceh dari Tahun 2023-2025 dari 13.776.162,51 Kg naik menjadi 20.737.882,64 kg  (50,53%) demikian juga dengan kabupaten Aceh Tenggara yaitu 611.698 kg naik menjadi 1.223.774 kg (100,06%)  hal ini menandakan bahwa permintaan daging sangat tinggi di provinsi Aceh dan khususnya di Aceh Tenggara naik 100% dan menandakan jumlah populasi ternak juga naik signifikan. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peternak sapi terhadap penerimaan teknologi inseminasi buatan (IB) di Aceh Tenggara. Minat peternak sapi terhadap penerimaan teknologi IB  di Aceh Tenggara. Penilaian peternak sapi terhadap teknologi inseminasi buatan di Aceh Tenggara dan Persepsi peternak terhadap petugas peternakan yang melaksanakan tehnologi IB di Aceh Tenggara. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei terhadap 60 peternak sapi potong yang telah mengadopsi teknologi IB. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi peternak secara umum berada dalam kategori baik, dengan total skor persepsi sebesar 6.255. Penilaian peternak terhadap IB memberikan berbagai manfaat terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas ternak, efisiensi biaya, serta penghematan waktu dan tenaga. Adapun beberapa kendala yang dihadapi peternak seperti kesulitan dalam mendeteksi birahi dan tingkat keberhasilan kebuntingan yang masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan penyuluhan, serta peningkatan akses terhadap inseminator terlatih untuk mendukung keberhasilan adopsi teknologi IB. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam pengembangan sektor peternakan sapi secara berkelanjutan.