Retnowulan, Maytie
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implikasi Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2024 Tentang Jaminan Kesehatan Terhadap Layanan Kesehatan Korban Tindak Pidana: Sebuah Laporan Kasus Retnowulan, Maytie; Utomo, Raden Panji Uva; Dhanardhono, Tuntas
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu tindak pidana dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain salah satunya adalah korban tindak pidana. Perkembangan sistem peradilan pidana tidak hanya berorientasi kepada kepentingan pelaku, tetapi juga berorientasi kepada perlindungan korban. Setiap korban tindak pidana tertentu selain mendapatkan hak atas perlindungan, juga berhak atas restitusi dan kompensasi. Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2024 tentang Jaminan Kesehatan, pasal 52 poin r disebutkan bahwa tindak pidana penganiayaan, kekerasan seksual, korban terorisme, dan tindak pidana perdagangan orang tidak dijamin oleh pelayanan kesehatan namun dijamin melalui skema pendanaan lain yang dilaksanakan kementerian/lembaga atau Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada kasus ini, korban diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal, sehingga menyebabkan luka tusuk pada punggung sisi kanan. Dilakukan pemeriksaan penunjang foto polos dada, dan didapatkan penumpukan cairan berupa darah pada rongga paru. Korban kemudian pulang atas permintaan sendiri dikarenakan biaya perawatan menjadi tanggungan pribadi. Artikel ini membahas bagaimana implikasi Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2024 terhadap layanan kesehatan korban tindak pidana. Kata kunci:Korban; Tindak Pidana; Implikasi; Layanan; Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2024
Peran Pemeriksaan Forensik dalam Mengungkap Temuan Fisik pada Kasus Sodomi Anak: Sebuah Laporan Kasus Retnowulan, Maytie; Utomo, Raden Panji Uva; Haryanto, Julia Ike
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu bentuk tindak pidana yang berdampak luas pada aspek fisik, psikologis, dan sosial korban. Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, perbuatan cabul terhadap anak, termasuk sodomi, dikategorikan sebagai tindak pidana kekerasan seksual. Pemeriksaan forensik memiliki peranan krusial dalam mengumpulkan bukti objektif, mendukung proses hukum, serta memastikan penanganan yang tepat dan sensitif terhadap korban anak dengan pendekatan berbasis trauma. Deskripsi Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun 6 bulan datang ke Rumah Sakit Dr. Kariadi dengan keluhan mengalami kekerasan seksual berupa sodomi yang dilakukan oleh teman satu asrama pada waktu yang berbeda. Pemeriksaan fisik forensik dengan pendekatan trauma menemukan dua buah jaringan parut (sikatrik) pada region anus yang menunjukkan tanda-tanda penyembuhan, tanpa ditemukan luka akut lainnya. Hasil anamnesis mendukung adanya riwayat tindakan sodomi berulang. Simpulan: Kasus ini menggambarkan kekerasan seksual pada anak dalam bentuk sodomi berulang oleh teman sebaya di lingkungan asrama. Temuan forensik berupa dua sikatrik anogenital yang telah sembuh menjadi bukti objektif penting yang dapat dipergunakan dalam proses hukum, serta membantu memperkirakan rentang waktu kejadian. Pemeriksaan forensik yang komprehensif dan berperspektif trauma sangat esensial dalam kasus kekerasan seksual pada anak. Kata kunci: kekerasan seksual; sodomi; anak; cedera anogenital; pemeriksaan forensik