Moh. Karmin Baruadi
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Village Toponymy in the Lyrics of North Bolaang Mongondow Regional Songs Bulangita Lipu Huta Hikma Nurcahyani Humokor; Moh. Karmin Baruadi; Ellyana Hinta
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i1.1029

Abstract

Penelitian ini membahas toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, serta aspek-aspek toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Toponimi desa dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, serta aspek-aspek toponimi dalam lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan toponimi desa dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, dan (2) Mendeskripsikan aspek-aspek toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bolaang Mongondow, pada tanggal 27 Mei hingga 19 Juni 2025. Penelitian ini menggunakan teori antropolinguistik dan teori toponimi menurut Sudaryat yang membagi ke dalam tiga aspek yakni aspek perwujudan, kemasyarakatan dan kebudayaan. Data penelitian ini meliputi lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Sumber data penelitian ini diperoleh dari lirik lagu, serta didukung oleh hasil wawancara dan dokumen sejarah desa. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap lirik lagu Bulangita Lipu Huta, wawancara dengan informan, serta data yang diambil dari dokumen sejarah desa. Teknik analisis data penelitian ini yakni, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Toponimi desa dalam lirik lagu Bulangita Lipu Huta mencerminkan keberadaan 17 desa yang masing-masing memiliki makna historis dan kultural yang kuat. Nama-nama desa tersebut tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga merekam sejarah lokal, latar belakang sosial dan historis masyarakat, mengandung nilai-nilia spiritual dan mitos serta kepercayaan masyarakat setempat. (2) Aspek toponimi yang ditemukan terdiri dari aspek perwujudan yakni 12 desa, aspek kemasyarakatan lima desa, dan aspek kebudayaan satu desa.