Karlina Denistia
Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Metafora pada Leksem Bunga: Analisis Frekuensi dan Konkordansi Berbasis Korpus Prasiska Priatini; Shafa Aura Alifya; Khairun Nisa Humairoh; Sevi Rahayu; Ardella Emillia Aninditya; Karlina Denistia
Linguistik Indonesia Vol. 44 No. 2 (2026): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v44i2.1072

Abstract

Penelitian ini mengkaji metafora pada leksem ‘bunga’ dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan metodologi linguistik korpus berlandaskan teori metafora. Data penelitian bersumber dari Korpus Leipzig Corpora Collection Indonesian 2022 dan dianalisis melalui distribusi frekuensi serta analisis konkordansi menggunakan CQPweb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘bunga’ merupakan leksem yang sangat produktif secara metaforis dan berfungsi sebagai sarana kognitif untuk memahami konsep-konsep abstrak melalui pengalaman konkret. Berdasarkan klasifikasi bidang, metafora ‘bunga’ paling dominan muncul dalam ranah ekonomi, misalnya ‘suku bunga’, ‘bunga kredit’, dan ‘bunga bank’, yang memetakan keuntungan finansial sebagai proses pertumbuhan alami. Berdasarkan frasa, metafora struktural mendominasi data, sedangkan berdasarkan konteks, metafora orientasional lebih menonjol melalui orientasi spasial tinggi–rendah dan naik–turun. Metafora ontologis muncul dalam jumlah lebih terbatas dan berfungsi untuk mengobjektifikasi konsep abstrak dalam kerangka sosial dan institusional. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pemetaan metafora ‘bunga’ berbasis data korpus, serta menegaskan bahwa metafora tersebut bersifat konvensional, stabil, dan berakar kuat dalam sistem kognitif bahasa Indonesia kontemporer.
PENINGKATAN LITERASI BUDAYA MELALUI VIDEO PROMOSI-EDUKASI PUSAKA MUSEUM KERIS NUSANTARA BERBASIS KOLABORASI INTERNASIONAL Anita Rusjayanti; Karlina Denistia; Cahyaningtyas Putri Suhita; Zaim Arif Eko Saputra; Dany Adi Saputra; Dea Farahdiba; Widdy Wijanti; Lidya Pawestri Ayuningtyas
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40922

Abstract

Abstrak: Keris merupakan warisan budaya takbenda Indonesia yang diakui UNESCO dan dilestarikan di Museum Keris Nusantara (MKN). Namun, penyampaian nilai sejarah, filosofi, dan budaya keris di MKN belum optimal dalam menjangkau generasi muda dan audiens internasional karena belum tersedia video promosi-edukasi tematik dwibahasa yang persuasif dan tervalidasi secara kuratorial maupun linguistik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan literasi budaya melalui pengembangan video promosi-edukasi berbasis kolaborasi internasional. Program dilaksanakan melalui enam tahapan menggunakan metode pendampingan partisipatif dengan model komunikasi persuasif AIDA serta pendekatan communicative translation dan transcreation, melibatkan tiga mitra, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), MKN, dan The University of Western Australia (UWA), yang berjumlah 25 peserta, dengan evaluasi melalui Focus Group Discussion dan skala ordinal 1–5 pada setiap tahapan. Kegiatan menghasilkan lima video promosi-edukasi dwibahasa dengan capaian 83% pada indikator keberhasilan terpenuhi penuh. Program ini berkontribusi pada SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui peningkatan literasi budaya, pengalaman project-based learning, dan kolaborasi internasional lintas institusi. Kegiatan ini menghasilkan lima video promosi-edukasi dwibahasa dengan 83% indikator keberhasilan luaran tercapai penuh; angka ini menunjukkan keberhasilan proses dan produk, bukan pengukuran langsung literasi budaya penerima manfaat. Uji coba awal terhadap evaluasi literasi pada lima audiens internasional dari negara berbeda menunjukkan respons sangat positif (rata-rata 4,64 dari 5); seluruh respons berada pada kategori setuju hingga sangat setuju. Program ini berpotensi mendukung SDG 4 dan SDG 17 melalui penyediaan media edukasi budaya tervalidasi dan kolaborasi lintas institusi, sementara pengukuran dampak berskala lebih luas direkomendasikan sebagai tindak lanjut.Abstract: The kris is an Indonesian intangible cultural heritage recognized by UNESCO and preserved at Museum Keris Nusantara (MKN). However, the communication of its historical, philosophical, and cultural values at MKN has not yet effectively reached younger generations and international audiences due to the absence of thematic, bilingual promotional-educational videos that are both persuasive and validated curatorially and linguistically. This community engagement program aimed to enhance cultural literacy through the development of promotional-educational videos based on international collaboration. The program was implemented through six stages using a participatory mentoring method with the AIDA persuasive communication model, communicative translation, and transcreation approaches, involving three partners. They are Universitas Sebelas Maret (UNS), MKN, and The University of Western Australia (UWA)—and about 25 participants, with evaluation conducted through Focus Group Discussions and a 1–5 ordinal scale at each stage. The program produced five bilingual promotional-educational videos, with 83% of success indicators fully achieved. This program contributes to SDG 4 (Quality Education) and SDG 17 (Partnerships for the Goals) through enhanced cultural literacy, project-based learning experiences, and international cross-institutional collaboration. The program produced five bilingual promotional-educational videos, with 83% of output success indicators fully achieved; this reflects the success of the development and validation process rather than a directly measured improvement in beneficiaries’ cultural literacy. An initial literacy assesment with five international viewers from different countries showed highly positive responses (mean 4.64 of 5), all within the agree-to-strongly-agree range. The program supports SDG 4 and SDG 17 through validated cultural-education media and cross-institutional collaboration, while larger-scale impact measurement is recommended as a follow-up.