Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evolution of the World Wide Fund for Nature as a Hegemonic Actor in Global Conservation Governance and Its Impact on the Baka Community Zamharirah Sang Putri; Bright Malenga
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 2 (2026): August
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i2.4139

Abstract

This study examines the evolution of the World Wide Fund for Nature (WWF) and its influence on global environmental governance, focusing on the case of the Baka Indigenous people in Cameroon. The study aims to analyze how WWF’s transformation from a wildlife conservation organization into a transnational actor has shaped power relations among international institutions, states, corporations, and Indigenous communities. This research applies Decolonial Theory, the concept of green grabbing, and the perspectives of Boaventura de Sousa Santos and Elinor Ostrom to critically examine conservation practices. The findings show that WWF has played a significant role in environmental advocacy, conservation funding, knowledge production, and protected area governance. However, the Baka case reveals that global conservation can reproduce coloniality of power when implemented without meaningful Indigenous participation. Restricted forest access, the use of eco-guards, and weak accountability for alleged human rights abuses reflect a tension between ecological protection and collective community rights. This study concludes that just conservation must be participatory, dialogical, rights-based, and grounded in the recognition of local knowledge as a core foundation of global environmental governance.
Deforestasi dan Krisis Iklim dalam Ekofeminisme Interseksional: Analisis Implikasi Sosial-Ekologi terhadap Perempuan Adat NTB Zamharirah Sang putri
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 19 No. 1 (2026): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v19i1.84344

Abstract

Deforestasi di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencerminkan paradoks pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini mencerminkan bahwa implementasi SDG 13 tentang Aksi Iklim di tingkat daerah menghadapi banyak tantangan. Aktivitas pertambangan ilegal, ekspansi pertanian jagung, dan pembangunan pariwisata yang eksploitatif, telah menyebabkan kerusakan hutan hingga 60% dari total 1,1 juta hektar kawasan hutan. Kondisi ini meningkatkan frekuensi bencana alam, memperburuk ketidaksetaraan sosial, terutama perempuan adat yang menghadapi beban ganda. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana deforestasi di NTB mempengaruhi kerentanan sosial dan ekologi, serta bagaimana perempuan adat dapat berperan dalam memperkuat aksi iklim berkelanjutan untuk mencapai SDG 13 dan SDG 5. Dengan menggunakan metode studi Pustaka dengan analisis kualitatif interpretatif dan menggunakan data sekunder dari berbagai sumber. Analisis ini menggunakan teori ekofeminisme interseksional, yang menyoroti hubungan antara penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi alam yang sekaligus bisa menjadi agen perubahan dalam konservasi hutan dan mitigasi perubahan iklim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lemahnya kebijakan daerah, dominasi budaya patriarki, dan minimnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi hambatan dalam mitigasi perubahan iklim di NTB. Penelitian ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan adat NTB dengan pendekatan ekofeminisme interseksional dapat menjadi strategi yang efektif untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Kata Kunci: Deforestasi NTB, SDG 13, Ekofeminisme Interseksional, Perempuan Adat.