Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri patogen terbesar yang menyebabkan infeksi kulit, yang dapat diatasi dengan antibakteri sintetik/semi sintetik yang terkadang menimbulkan iritasi kulit. Ekstrak etanol biji pepaya mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan kandungan senyawa fitokimia antibakteri flavonoid, alkaloid dan tannin. Penelitian ini bertujuan memformulasikan ekstrak etanol biji pepaya menjadi sediaan salep, menentukan stabilitas fisik sediaan, dan menentukan daya hambat salep ekstrak etanol biji pepaya (EEBP) konsentrasi 1%, 2%, dan 3% terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian berupa eksperimental laboratorium yaitu menguji stabilitas fisik sediaan salep EEBP meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH dan daya sebar, serta mengukur zona hambatnya terhadap Staphylococcus aureus secara difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salep EEBP 1%, 2%, dan 3% memiliki organoleptik bentuk yang semi padat, warna putih kecoklatan hingga coklat muda, dengan aroma khas ekstrak biji pepaya dan stabil. Ketiga formula salep menunjukkan susunan massa yang homogen, nilai pH dan daya sebar yang memenuhi persyaratan sediaan topikal, serta menunjukkan stabilitas sediaan salep yang baik selama penyimpanan 28 hari. Salep EEBP 1%, 2%, dan 3% memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambat berturut-turut 8,25 ± 0,2434 mm (kategori sedang), 9,32 ± 0,0262 mm (kategaori sedang), dan 10,06 ± 0,3249 (kategori kuat), dan berbeda signifikan dengan kontrol positif dengan zona hambat 20,44 ± 1,0970 mm (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa Salep EEBP 1%, 2% dan 3% menunjukkan karakteristik fisik yang stabil selama 28 hari, dan memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan daya hambat sedang-kuat. Kata kunci : Salep EEBP, Stabilitas Fisik, Daya Hambat Bakteri, Staphylococcus aureus