Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dinamika Komunikasi Digital: Peluang dan Tantangannya bagi Gen Z: Penelitian Nurmala; Qori Halimatul Hidayah; Muda Wali
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5276

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi digital meliputi peluang dan tantangannya bagi gen Z. Metode penelitian dalam penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature. Perkembangan zaman dan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam semua aspek kehidupan manusia. Dalam bidang komunikasi yang kerap disebut era digital ini juga mengalami banyak pergeseran dari komunikasi langsung saat ini manusia lebih banyak memanfaatkan media komunikasi digital untuk berintaraksi. Gen Z adalah genarasi yang aktif menggunakan media komunikasi, dimana mereka merupakan generasi yang hadir dan tumbuh bersamaan dengan berkembangnya teknologi digital. Media komunikasi digital yang populer di kalangan gen Z yaitu media sosial. Hampir semua aktifitas hari-harinya mengandalkan media komunikasi dalam mencapai tujuannya. Kehadiran media komunikasi digital pada dasarnya memberi banyak dampak positif bagi penggunanya, diantaranya sebagai literasi dalam aktifitas pembelajaran, sebagai sarana untuk mengeksplorasi bakat atau kreatifitas, berbagi pengalaman, ilmu atau memberi hiburan pengguna lainnyaserta dapat menjadi sarana dalam menambah penghasilan dengan menjadi content creator yang mengedukasi dan menghibur. Namun kemudahan tersebut juga menjadi tantangan bagi gen Z di era digital akibat kurangnya pemahaman dan kecakapan dalam pemanfaatan media komunikasi digital secara baik, terampil, dan bijak sehingga penyalahgunaan media digital yang berdampak negative bagi dirinya dan orang lain seperti fomo, pelanggaran etika digital, terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu di media sosial, kecanduan gedged, kesehatan mental dan informasi yang overload/hoak. Pemanfaatan komunikasi digital bagi gen Z sebaiknya tidak hanya kreatif tetapi harus memberi keamanan dan kenyamanan bagi komunikator dan komunikan di ruang digital.
Penerapan Etika Komunikasi Islam dalam Mengatasi Krisis Moral Gen Z di Era Digital: Penelitian Nurmala; Muda Wali; Muslem; Ismuhar; Nailis Wildany
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.515

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Penerapan Etika Komunikasi Islam dalam Mengatasi Krisis Moral Gen Z Era Digital. Metode dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan library research atau studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data berasal dari sumber data primer dan sumber data skunder. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kemajuan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa pengaruh positif dan negative bagi penggunanya terutama gen Z. Pemanfaatan teknologi dengan baik dan bijak maka dapat mempermudah segala aktifitasnya di era digital ini. Namun kurangnya pemahaman dalam penggunaan teknologi digital malah berdampak buruk bagi pengguna itu sendiri. Kehadiran Gen Z seiring dengan perkembangan teknologi menjadikan merak generasi yang aktif di ruang digital saat ini terutama media sosial. Kurangnya pemahaman penggunaan media sosial yang benar dan beretika menghasilkan tindakan-tindakan yang tidak bermoral di media sosial seperti penggunaan bahasa yang tidak sopan, cyber bullying, penipuan dan lainnya. Dengan memahami prinsip etika komunikasi Islam berperan sebagai pedoman bagi Gen Z untuk berinteraksi secara bermoral di era digital.
Strategi Personal Branding Virtual Youtuber Mikazuki Arion dalam Membangun Citra Positif di Media Sosial Youtube Kirana Ariesandra Milania Subiyantoro; Nurmala
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi personal branding Virtual YouTuber (VTuber) Indonesia, Mikazuki Arion, dalam membangun citra positif di media sosial YouTube. Penelitian menggunakan paradigma postpositivisme dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus tunggal berunit terbenam (embedded single-case study) yang merujuk pada Yin (2018). Kasus dibatasi pada praktik personal branding Mikazuki Arion sejak debut 2023 hingga periode pengumpulan data 2026. Sumber bukti mencakup lima video siaran langsung YouTube yang dipilih secara purposif, dokumentasi digital, serta wawancara semi-terstruktur dengan tiga moderator Mikazuki Arion, yaitu Cuji, Seven, dan Mine pada 22 Agustus 2026. Analisis dilakukan secara deduktif menggunakan delapan hukum personal branding Peter Montoya sebagai kategori yang ditetapkan di muka, kemudian dipadankan melalui pattern matching antar-sumber bukti. Keabsahan studi kasus diperkuat melalui validitas konstruk, validitas internal, validitas eksternal, dan reliabilitas sebagaimana dikemukakan Yin (2018), terutama dengan penggunaan multiple sources of evidence dan rantai bukti. Hasil penelitian menunjukkan pola yang kuat dan konsisten pada delapan hukum Montoya. Spesialisasi dan perbedaan dibangun melalui konsep Prime Minister, Primordial Demon, suara khas, lore, serta identitas visual; kepemimpinan terlihat dalam pengelolaan alur siaran, batas komunitas, dan respons terhadap kritik; kepribadian tampak melalui komunikasi spontan, hangat, humoris, dan natural; kenampakan dijaga melalui live streaming dan interaksi lintas platform; kesatuan dan keteguhan terlihat pada keberlanjutan identitas meskipun terjadi redebut dan pembaruan model; sedangkan goodwill dibangun melalui apresiasi, empati, ketegasan yang proporsional, dan kepedulian terhadap audiens. Wawancara moderator mengonfirmasi mayoritas pola yang teramati pada video sekaligus memperluas pemahaman tentang pengelolaan komunitas di luar momen siaran. Temuan ini pada dasarnya mengonfirmasi teori Montoya, tetapi memperluas pemaknaan personality dan unity pada konteks identitas berbasis avatar, karena konsistensi yang dapat diuji adalah konsistensi persona publik dan praktik komunikasinya, bukan identitas privat talent di balik avatar.