rabbani, Ikhsan Ghani
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Perbandingan Karbon Terkandung (Embodied Carbon) pada Tiga Skenario Desain Struktur (Beton Konvensional, Baja, dan Beton Pracetak) Menggunakan Integrasi BIM-LCA Studi Kasus: Gedung Geodiversity BRIN Kebumen rabbani, Ikhsan Ghani; Indradi Wijatmiko; Retno Anggraini
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik rekayasa struktur di Indonesia umumnya masih berfokus pada pemenuhan kekuatan teknis sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan efisiensi biaya, sementara dampak lingkungan dari pemilihan sistem struktur belum dipertimbangkan secara kuantitatif sejak tahap desain. Penelitian ini membandingkan emisi karbon terkandung (embodied carbon) dari tiga skenario sistem struktur, yaitu Beton Bertulang Konvensional (cast-in-place), Rangka Baja, dan Beton Pracetak, pada studi kasus Gedung Geodiversity BRIN Kebumen setinggi tiga lantai. Ketiga skenario dirancang dengan pendekatan berbasis kapasitas (capacity-based design) mengacu pada kapasitas nominal elemen eksisting sebagai baseline, sehingga komparasi bersifat setara (apple-to-apple). Alur kerja penelitian mengintegrasikan Tekla Structural Designer untuk analisis dan desain struktur, Autodesk Revit untuk ekstraksi volume material (Quantity Take-Off), dan platform One Click LCA untuk menghitung Global Warming Potential (GWP) pada lingkup Cradle-to-Practical Completion (Modul A1–A5). Hasil penelitian menunjukkan Skenario Rangka Baja memenuhi kapasitas momen balok 1,1–84,4% dan kapasitas aksial kolom 16,3–82,7% di atas baseline, sedangkan Skenario Beton Pracetak dirancang ekuivalen dengan Skenario 1. Total emisi karbon terkandung yang dihasilkan adalah 2.172.196 kg CO2e untuk Beton CIP, 2.141.466 kg CO2e untuk Rangka Baja, dan 1.878.811 kg CO2e untuk Beton Pracetak, dengan Modul A1–A3 menyumbang 82–84% dari total emisi pada ketiga skenario. Beton Pracetak tercatat sebagai skenario dengan emisi terendah, 13,5% di bawah Beton CIP, meskipun capaian ini dipengaruhi pemilihan data EPD generik yang telah menyertakan asumsi kandungan tulangan industri. Analisis kelayakan ekonomi berada di luar lingkup penelitian ini dan direkomendasikan sebagai kajian lanjutan melalui pendekatan Life Cycle Cost.