Produksi semen dalam jumlah besar untuk kebutuhan konstruksi beton menimbulkan permasalahan lingkungan akibat tingginya emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan selama proses produksinya. Salah satu upaya mitigasi yang banyak dikembangkan adalah pemanfaatan bahan pozzolan sebagai pengganti parsial semen, salah satunya metakaolin (MK), yaitu hasil kalsinasi tanah liat kaolin yang bersifat pozzolanik reaktif. Pengaruh variasi persentase MK terhadap kuat tekan beton telah banyak dikaji, namun pengaruhnya terhadap modulus elastisitas, khususnya pada rentang substitusi yang lebih luas hingga 20%, masih memerlukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi persentase MK (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen) terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton normal pada faktor air semen (FAS) konstan sebesar 0,35. Sebanyak 15 benda uji silinder beton berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm diuji pada umur 28 hari, dengan pengujian kuat tekan mengacu ASTM C39/SNI 1974:2011 dan modulus elastisitas mengacu ASTM C469 menggunakan compressometer. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan beton meningkat dari 40,5 MPa (MK- 0) hingga mencapai nilai optimum sebesar 43 MPa pada variasi MK-10 (naik 6,2%), kemudian menurun pada variasi MK-15 (41,5 MPa) dan MK-20 (39 MPa). Modulus elastisitas menunjukkan pola yang berbeda: menurun pada variasi MK-5 menjadi 13.607,82 MPa dari 17.206,40 MPa pada MK-0, kemudian meningkat konsisten hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 27.992,26 MPa pada variasi MK-20. Perbandingan dengan pendekatan teoritis SNI 2847:2019 (Ec = 4700√f'c) menunjukkan penyimpangan nilai eksperimental yang bervariasi antara - 4,6% hingga -55,3%, dengan penyimpangan terkecil justru terjadi pada kadar MK tinggi. Perbedaan pola antara kuat tekan dan modulus elastisitas mengindikasikan bahwa kekakuan beton bermetakaolin tidak semata-mata mengikuti besaran kuat tekannya, sehingga kadar substitusi optimum perlu ditentukan sesuai parameter kinerja yang menjadi prioritas.