Sarwo Edi Wardana
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implikatur dan Maksud Tuturan Berbahasa Jawa dalam Antologi Cerkak Simbar Menjangan Karya Impian Nopitasari Sarwo Edi Wardana
PRASASTI: Journal of Linguistics Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prasasti.v9i1.71490

Abstract

People sometimes do not clearly state what they mean, but instead, use other statements that are certainly understood by their speaking partner. This is an implication. Implications can also be found in the form of Javanese language statements because of the characteristic of Javanese people who tend to be indirect in expressing something. This article aims to discuss the implications and the meanings of Javanese language statements in the anthology of cerkak (cerita cekak)/'short stories' entitled Simbar Menjangan (2022) by Impian Nopitasari. This object was chosen because the speech in it is pragmatically close to everyday life and contains various Javanese speeches against the backdrop of plural Javanese life stories, such as urban and rural life, migration, relations between two cultures, and so on. This article is a descriptive-qualitative study with data collection through the observe-record method and data processing and analysis using the contextual pragmatic matching method. The theory of implication is used to examine the principle of cooperation through four maxim principles developed by Grice (1989), that's quantity maxim, quality maxim, relation maxim, and manner maxim. The results of the study show that (1) there are seven meanings in implications, including allowing, convincing, providing reasons, agreeing (as politeness), inciting gossip, rejecting/avoiding gossip, and opening/inciting conversation; (2) the meanings of implications in the Javanese language statements have their characteristics, i.e. many statements are found that have different meanings or convey meanings or information that are not direct. This is certainly based on Javanese social and cultural aspects, such as habits, politeness, formality, and familiarity. 
Narasi Pastoral Puisi “Lir-Ilir” dan “Ngelmu Pring” Karya Sindhunata: Kajian Ekokritik Sarwo Edi Wardana
Haluan Sastra Budaya Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v9i1.69454

Abstract

Kajian ekologi adalah kajian yang sedang diminati pada masa kini seiring dengan ancaman bencana dan krisis lingkungan secara global. Pada perkembangannya, kajian ekologi juga dapat didekati dengan kajian sastra (hijau), yaitu studi ekokritik. Artikel ini merupakan studi ekokritik sastra yang berfokus pada kajian narasi pastoral dalam karya sastra. Objek kajian artikel ini adalah puisi “Lir-Ilir” dan “Ngelmu Pring” karya Sindhunata dalam antologi puisi Air Kata-Kata (2019). Analisis data berupa deskriptif-kualitatif yang mengidentifikasikan (1) tokoh bucolic, (2) konstruksi arcadia, dan (3) unsur retreat dan return. Hasil analisis puisi “Lir-Ilir” dan “Ngelmu Pring” menunjukkan bahwa (1) tokoh bucolic tidak hanya berupa tokoh dalam puisi, yaitu anak-anak gembala, tetapi juga penulis yang hadir sebagai narator/”dalang” yang membawa pesan-pesan ekologis; (2) konstruksi arcadia menujukkan bahwa alam hadir tidak hanya secara ideal-normatif yang indah dan sempurna, tetapi juga dapat dikonstruksikan dalam perbandingan dan metafora yang ekstrem dan vokal sebagai ibu yang “seksi dan sintal”; dan (3) unsur retreat dan return tidak hanya menunjukkan bahwa alam yang “ideal” dan yang “diidealkan” adalah satu-satunya jalan pelarian kehidupan urban, tetapi unsur ini mencakup refleksi pelajaran hidup manusia melalui alam.