Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SEBAGAI WACANA PROFESIONALISME PENDIDIK (TINJUAN ANALISIS WACANA KRITIS) Harsia, Harsia; Madeamin, Sehe
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v1i2.1735

Abstract

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.Sebagai pengajar, guru harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar peserta didik memahami keterampilan yang dituntut oleh pembelajaran.Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey),yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orangtua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Bahasa memang merupakan alat untuk berpikir, melalui pengamatan yang dilakukan dan menyusun kata-kata serta menyimpan dalam otak, terjadilah pemahaman sebagai hasil be;lajar. Hal tersebut selalu mengalami perubahan dalam setiap generasi, dan perubahan yang dilakukan melalui pendidikan akan memberikan hasil yang positif. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru.Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat disbanding profesi lainnya Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah mencari kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa mencari, menemukan dan mengemukakan kebenaran.Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreativitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu Guru dan peserta didik bekerjasama mempelajari cara baru, dan meninggalkan kepribadian yang telah membantunya mencapai tujuan dan menggantinya sesuai dengan tuntutan masa kini. Proses ini menjadi suatu transaksi bagi guru dan peserta didik dalam pembelajaran.
Kajian Marxisme pada Novel Kemolekan Landak Karya Muriel Barbery Lisa Elviana; Harsia Harsia; Vera Pebriana
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4629

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena novel ini mendapat perhatian khusus masyarakat sebab memiliki tema yang mengangkat tentang ideologi, kesadaran kelas dan konflik pribadi. Kemolekan Landak berkisah tentang masyarkat borjuis dan proletar yang saat ini memiliki kesamaan dengan kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini, baik kondisi sosial maupun ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk Marxisme yang terdapat pada novel Kemolekan Landak karya Muriel Barbery. Pendekatan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik membaca dan mencatat. Hasil penelitian menunjukkan dalam novel Kemolekan Landak karya Muriel Barbery terdapat 21 data yang termasuk dalam bentuk kelas sosial, 2 data yang termasuk dalam bentuk ideologi, dan 4 data yang termasuk dalam bentuk hegemoni.
PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SEBAGAI WACANA PROFESIONALISME PENDIDIK (TINJUAN ANALISIS WACANA KRITIS) Harsia, Harsia; Madeamin, Sehe
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v1i2.1735

Abstract

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.Sebagai pengajar, guru harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar peserta didik memahami keterampilan yang dituntut oleh pembelajaran.Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey),yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orangtua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Bahasa memang merupakan alat untuk berpikir, melalui pengamatan yang dilakukan dan menyusun kata-kata serta menyimpan dalam otak, terjadilah pemahaman sebagai hasil be;lajar. Hal tersebut selalu mengalami perubahan dalam setiap generasi, dan perubahan yang dilakukan melalui pendidikan akan memberikan hasil yang positif. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru.Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat disbanding profesi lainnya Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah mencari kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa mencari, menemukan dan mengemukakan kebenaran.Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreativitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu Guru dan peserta didik bekerjasama mempelajari cara baru, dan meninggalkan kepribadian yang telah membantunya mencapai tujuan dan menggantinya sesuai dengan tuntutan masa kini. Proses ini menjadi suatu transaksi bagi guru dan peserta didik dalam pembelajaran.
Kajian Marxisme pada Novel Kemolekan Landak Karya Muriel Barbery Lisa Elviana; Harsia, Harsia; Vera Pebriana
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4629

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena novel ini mendapat perhatian khusus masyarakat sebab memiliki tema yang mengangkat tentang ideologi, kesadaran kelas dan konflik pribadi. Kemolekan Landak berkisah tentang masyarkat borjuis dan proletar yang saat ini memiliki kesamaan dengan kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini, baik kondisi sosial maupun ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk Marxisme yang terdapat pada novel Kemolekan Landak karya Muriel Barbery. Pendekatan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik membaca dan mencatat. Hasil penelitian menunjukkan dalam novel Kemolekan Landak karya Muriel Barbery terdapat 21 data yang termasuk dalam bentuk kelas sosial, 2 data yang termasuk dalam bentuk ideologi, dan 4 data yang termasuk dalam bentuk hegemoni.
Analisis Alih Kode dan Campur Kode dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Bua Ponrang Kabupaten Luwu Harsia Harsia; Besse Herdiana; Hapsa
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v6i1.2549

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan bentuk alih kode dan campur kode di SMP Negeri 2 Bua Ponrang yang termasuk dalam penelitian kualitatif. Sumber data pada penelitian ini bersumber dari tuturan lisan guru dan siswa di SMP Negeri 2 Bua Ponrang. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskripsi kualitatif. Pengumpulan data yaitu teknik sadap, catat, rekam, dan dokumentasi. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi alih kode dan campur kode di SMP Negeri 2 Bua Ponrang. Alih kode berupa peralihan bahasa Tae’ ke bahasa Indonesia ataupun sebaliknya yang terdapat pada data (1) sampai dengan data (6). Sedangkan campur kode berupa penyisipan unsur kata bahasa Tae’ dan juga terdapat penyisipan unsur kata bahasa asing (inggris) ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada data (7) sampai dengan (15).