p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Haluan Sastra Budaya
Isad Suhaeb
Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tawa dan Identitas Lokal: Figur Kedok Menyon sebagai Representasi Sosial dalam Kesenian Singa Dangdut Isad Suhaeb
Haluan Sastra Budaya Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v9i2.107637

Abstract

The Singa Dangdut performance in Indramayu offers more than just music and dance entertainment. It also features a comedic character named Menyon, who becomes the center of attention in creating a festive atmosphere. This article examines the Menyon mask figure as a form of social representation and a symbol of local identity in Indramayu. Using an ethnographic approach and cultural representation theory, this study analyzes how the laughter evoked by Menyon is not merely entertaining but also carries social critique, class expression, and the reinforcement of communal solidarity. Data were collected through direct observation of Singa Dangdut performances, interviews with performers, and visual analysis of the mask design. The findings reveal that The Menyon mask plays a strategic role as a medium of dynamic local cultural expression. reflecting tensions between tradition and modernity, while also serving as a safe space for symbolic public expression. Thus, the Menyon character is not merely a stage clown but also a cultural agent who embodies social values, collective identity, and the everyday dynamics of the people of Indramayu.
Tubuh, Saweran, dan Identitas Budaya: Autoetnografi Pengalaman dalam Upacara Ngarot Lelea Isad Suhaeb; Vrisa Rivera; Hawa La'ala Nabilla Fada; Wahyu Triani
Haluan Sastra Budaya Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v10i1.120113

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengalaman tubuh (embodied experience) peneliti dalam mengikuti praktik saweran pada upacara adat Ngarot untuk memahami bagaimana identitas budaya dikonstruksi dan dinegosiasikan dalam masyarakat Indramayu. Selama ini, saweran umumnya dipahami sebagai bentuk hiburan dan pemberian uang dalam pertunjukan tradisional. Namun, praktik tersebut juga merupakan praktik budaya yang sarat dengan makna simbolik sebagai media ekspresi, pemeliharaan relasi sosial, dan pembentukan identitas lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode autoetnografi yang menempatkan pengalaman hidup peneliti sebagai sumber utama penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan lapangan reflektif, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama keterlibatan peneliti dalam upacara adat Ngarot di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perspektif antropologi budaya dan konsep modal simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh dalam praktik saweran tidak hanya berfungsi sebagai media pertunjukan, tetapi juga sebagai arena budaya tempat identitas, pengakuan sosial, dan modal simbolik terus dinegosiasikan, direproduksi, dan dilegitimasi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan dinamis antara tubuh, pertukaran ekonomi, dan tradisi memungkinkan praktik saweran tetap mempertahankan sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir Indramayu di tengah perubahan sosial dan budaya yang terus berlangsung. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik budaya berbasis pengalaman tubuh sebagai mekanisme pelestarian kekuasaan simbolik dan identitas lokal dalam masyarakat kontemporer.