Penelitian ini mengkaji pengalaman tubuh (embodied experience) peneliti dalam mengikuti praktik saweran pada upacara adat Ngarot untuk memahami bagaimana identitas budaya dikonstruksi dan dinegosiasikan dalam masyarakat Indramayu. Selama ini, saweran umumnya dipahami sebagai bentuk hiburan dan pemberian uang dalam pertunjukan tradisional. Namun, praktik tersebut juga merupakan praktik budaya yang sarat dengan makna simbolik sebagai media ekspresi, pemeliharaan relasi sosial, dan pembentukan identitas lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode autoetnografi yang menempatkan pengalaman hidup peneliti sebagai sumber utama penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan lapangan reflektif, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama keterlibatan peneliti dalam upacara adat Ngarot di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perspektif antropologi budaya dan konsep modal simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh dalam praktik saweran tidak hanya berfungsi sebagai media pertunjukan, tetapi juga sebagai arena budaya tempat identitas, pengakuan sosial, dan modal simbolik terus dinegosiasikan, direproduksi, dan dilegitimasi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan dinamis antara tubuh, pertukaran ekonomi, dan tradisi memungkinkan praktik saweran tetap mempertahankan sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir Indramayu di tengah perubahan sosial dan budaya yang terus berlangsung. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik budaya berbasis pengalaman tubuh sebagai mekanisme pelestarian kekuasaan simbolik dan identitas lokal dalam masyarakat kontemporer.