Kesehatan mental ibu primipara pasca persalinan merupakan isu krusial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor multidimensi, namun penelitian dengan desain kohort retrospektif masih terbatas di Indonesia. Kondisi psikologis ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara) selama masa nifas menjadi perhatian penting mengingat kondisi fisik, mental, serta adaptasi sosial berisiko memicu gangguan kesehatan mental. Minimnya pengalaman dalam mengasuh anak menempatkan kelompok ini pada tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Atas dasar tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji berbagai determinan biopsikososial yang mempengaruhi kesehatan mental ibu primipara. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko biopsikososial yang meliputi kondisi fisik pasca persalinan, parental self-efficacy, dukungan sosial, dan status ekonomi terhadap kesehatan mental ibu primipara pasca persalinan. Metode desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan kohort retrospektif. Sampel berjumlah 85 ibu primipara yang diambil menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode consecutive sampling di wilyah kerja Puskesmas belimbing Kota Padang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yaitu dengan barkin index of maternal functioning (BIMF) dan sympton cheklist 90 (SCL-90) untuk menilai kesehatan mental. Analisis data menggunakan uji bivariat chi-square dan analisis multivariat regresi logistik menggunakan SPSS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konndisi fisik pasca persalinan (p=0,021; OR=6,661) dan dukungan sosial (p=0,008; OR=7,144) memiliki hubungan yang signifikan dengan dukungan sosial merupakan faktor risiko yang paling dominan terhadap kesehatan mental ibu. parental self-efficacy dan status ekonomi juga berkontribusi secara signifikan terhadap skor status mental pasca persalinan. Kesimpulan kesehatan mental ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara) sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Dari berbagai faktor yang diteliti, dukungan sosial menjadi elemen paling dominan yang memicu risiko gangguan kesehatan mental, diikuti oleh kondisi fisik pasca persalinan, keyakinan diri dalam mengasuhan (parental self-efficacy), serta tingkat ekonomi.