Latar belakang: Perkembangan bahasa anak usia dini sangat bergantung pada iklim emosional keluarga, di mana kelekatan aman (secure attachment) menjadi fondasi utama stimulasi kebahasaan. Kendati demikian, kajian kualitatif mendalam mengenai kontribusi kelekatan terhadap kematangan bahasa reseptif dan ekspresif sesuai indikator STPPA masih terbatas. Tujuan: untuk menganalisis secara mendalam kontribusi kelekatan keluarga terhadap kematanga bahasa reseptif dan ekspresif anak usia 5 tahun berdasarkan indikator STPPA Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus mendalam ini melibatkan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun 11 bulan dengan kemampuan bahasa superior (Ananda RKM) serta ibu kandung sebagai informan kunci di Kota Tasikmalaya. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan pasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi menggunakan instrumen pedoman observasi dan wawancara yang diadaptasi dari indikator STPPA dan Teori Kelekatan Bowlby. Analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif berbasis penalaran dan ketersediaan orang tua sebagai safe haven serta secure base mendorong kematangan bahasa reseptif anak (pemfokusan atensi dan penalaran kausalitas) serta bahasa ekspresif (bebas baby talk, struktur kalimat SPOK utuh, dan penceritaan naratif runtut). Kelekatan aman terbukti menurunkan kecemasan emosional sehingga mengoptimalkan fungsi kognitif bahasa anak. Kesimpulan: Kelekatan emosional merupakan prekondisi psikologis utama dalam akselerasi bahasa anak yang juga memicu transfer of learning berupa perilaku prososial di sekolah. Implikasi pengabdian kepada masyarakat dari temuan ini dapat ditindaklanjuti sebagai materi edukasi dan modul pelatihan pengasuhan berbasis kelekatan (attachment-based parenting) bagi masyarakat luas.