The emergence of the term “Japanese First†in public media discourse can be traced to the second quarter of 2025, based on documented reports and news coverage collected during the data compilation period. This study conducts a comparative analysis of political representations of the Japanese First issues by contrasting coverage in the English-language press and Indonesian-language press on online discourses. Drawing on a corpus-driven investigation of 45 news articles published in online discourses from July to September 2025, we disseminate how different news agencies represent, legitimise, and stigmatise the Japanese First issues. This study utilises a mixed method consisting of quantitative analysis to provide statistical analysis for linguistic features and qualitative analysis to describe the usage of its features, such as keywords, collocations, and KWIC, which are related to our study. The research combines a corpus-based approach with discourse analysis (CADA) to investigate language use in relation to transitivity analysis. The findings of our analysis reveal differences in transitivity patterns between two corpora in the news articles published in different languages. English-language discourse tends to emphasis perceptual and ideological framing that associates parties with specific values, beliefs, and moral imagery while the Indonesian-language discourse predominantly portrays the performative actions of parties.Keywords: Language and ideology, Japanese First, transivitas halliday, online discourse ABSTRAKMunculnya istilah "Japanese First" dalam wacana media publik dapat ditelusuri hingga kuartal II-2025, berdasarkan laporan terdokumentasi dan liputan berita yang dikumpulkan selama periode kompilasi data. Studi ini melakukan analisis komparatif representasi politik dari isu-isu Jepang Pertama dengan membandingkan liputan di pers berbahasa Inggris dan pers berbahasa Indonesia pada wacana online. Berdasarkan investigasi yang digerakkan oleh korpus dari 45 artikel berita yang diterbitkan dalam wacana online dari Juli hingga September 2025, kami mengeksplorasi bagaimana berbagai kantor berita merepresentasikan, melegitimasi, dan menstigmatisasi masalah Japanese First. Penelitian ini menggunakan metode campuran yang terdiri dari analisis kuantitatif untuk memberikan analisis statistik untuk fitur linguistik dan analisis kualitatif untuk menggambarkan penggunaan fitur-fiturnya, seperti kata kunci, kolokasi, dan KWIC, yang terkait dengan penelitian kami. Penelitian ini menggabungkan pendekatan berbasis korpus dengan analisis wacana (CADA) untuk menyelidiki penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan analisis transitivitas. Temuan analisis kami mengungkapkan perbedaan pola transitivitas antara dua korpus dalam artikel berita yang diterbitkan dalam bahasa yang berbeda. Wacana berbahasa Inggris cenderung menekankan pembingkaian perseptual dan ideologis yang mengasosiasikan partai dengan nilai, keyakinan, dan citra moral tertentu sementara wacana berbahasa Indonesia sebagian besar menggambarkan tindakan performatif para pihak.Kata Kunci: Bahasa dan kekuasaan, Japanese First, transivitas halliday, wacana daring