Kemampuan guru dalam menyusun soal numerasi yang kontekstual, autentik, dan berorientasi pada pemecahan masalah merupakan salah satu faktor penting dalam penguatan kompetensi numerasi siswa. Namun, praktik pembelajaran numerasi di sekolah masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pemahaman guru dalam mengintegrasikan konteks lingkungan, keberlanjutan, dan potensi lokal ke dalam penyusunan soal numerasi. Konsep Blue-Green School yang mengintegrasikan lingkungan biru (pesisir dan laut) dan lingkungan hijau (vegetasi, ekosistem, serta keberlanjutan) berpotensi menjadi pendekatan inovatif untuk membangun lingkungan belajar yang kontekstual sekaligus mengembangkan pemahaman guru dalam menyusun soal numerasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Blue-Green School dalam lingkungan belajar serta mengembangkan model pemahaman guru dalam menyusun soal numerasi di Kota Ternate. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan subjek guru sekolah dasar di Kota Ternate. Instrumen penelitian meliputi tes pemahaman penyusunan soal numerasi, lembar observasi lingkungan belajar Blue-Green School, angket, wawancara, dan dokumentasi. Data dikumpulkan melalui asesmen awal, observasi, pelatihan dan pendampingan penyusunan soal, implementasi pembelajaran berbasis konteks Blue-Green School, serta asesmen akhir. Analisis data dilakukan secara kuantitatif melalui analisis deskriptif dan uji peningkatan kemampuan, serta secara kualitatif melalui analisis tematik. Hasil penelitian terhadap 100 guru sebagai sampel menunjukkan bahwa penerapan Blue-Green School dalam lingkungan belajar meningkatkan pemahaman guru dalam menyusun soal numerasi. Sebanyak 78 guru (78%) mencapai kategori pemahaman tinggi, 17 guru (17%) berada pada kategori sedang, dan 5 guru (5%) masih berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar kontekstual berbasis ekosistem biru-hijau efektif memperkuat kemampuan guru merancang soal numerasi yang autentik, kontekstual, dan berorientasi pada pemecahan masalah.