p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Geocivic
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH FAKTOR SOSIAL BUDAYA TERHADAP PREFERENSI BELANJA IBU RUMAH TANGGA DI TIKTOK SHOP (STUDI KASUS DI KELURAHAN MAKASSAR BARAT KOTA TERNATE) Jusan Hi. Yusuf; Maftuchatun Na'imah
Jurnal GeoCivic Vol 9 No 1 (2026): GEOCIVIC EDISI 2026
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v9i1.11782

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai faktor sosial budaya yang memengaruhi kecenderungan ibu rumah tangga dalam melakukan aktivitas belanja melalui TikTok Shop, dengan mengambil lokasi studi di Kelurahan Makassar Barat, Kota Ternate. Penelitian ini menitikberatkan pada peran nilai, norma, gaya hidup, serta dinamika interaksi sosial dalam membentuk perilaku konsumtif ibu rumah tangga di tengah perkembangan media digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap sejumlah informan yang merupakan ibu rumah tangga pengguna aktif TikTok Shop. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara tematik dengan mengacu pada perspektif antropologi sosial budaya, seperti konsep konsumsi sebagai praktik budaya, simbol status sosial, dan modernitas digital.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan ibu rumah tangga untuk berbelanja di TikTok Shop tidak semata-mata dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi atau kemudahan akses, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek sosial budaya, seperti solidaritas kelompok, pengaruh lingkungan pertemanan, konstruksi status sosial, serta perubahan nilai konsumsi dalam masyarakat perkotaan. Aktivitas belanja di TikTok Shop mencerminkan hadirnya gaya hidup baru yang menandai perubahan sosial perempuan dalam merespons era modernitas digital. Temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku konsumtif ibu rumah tangga dalam penggunaan TikTok Shop merupakan cerminan dari dinamika perubahan sosial dan budaya di tingkat lokal. Kegiatan belanja daring tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi media dalam membangun identitas diri serta eksistensi sosial di era digital.
TRADISI WALIMA SEBAGAI WUJUD GOTONG ROYONG DAN KOHESI SOSIAL DI DESA UMALOYA, KABUPATEN KEPULAUAN SULA Jusan Hi. Yusuf; Fiki Umalekhoa
Jurnal GeoCivic Vol 9 No 1 (2026): GEOCIVIC EDISI 2026
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v9i1.11783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam praktik budaya Walima sebagai bentuk kerja sosial sekaligus upaya mempertahankan nilai gotong royong pada masyarakat Desa Umaloya di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif etnografis. Dalam kehidupan sosial, kebudayaan tidak hanya dipahami sebagai warisan simbolik, tetapi juga sebagai sistem nilai yang mengatur pola interaksi, solidaritas, dan kohesi sosial. Tradisi Walima merepresentasikan ekspresi kolektif masyarakat yang sarat dengan makna sosial, religius, dan kultural, serta berperan sebagai media dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah perubahan zaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Walima tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan atau seremoni adat, tetapi juga sebagai mekanisme reproduksi sosial dan integrasi masyarakat. Melalui praktik ini, masyarakat terlibat dalam kerja kolektif, mempererat hubungan kekerabatan, serta memperkuat identitas sosial sebagai komunitas yang menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong. Dengan demikian, Walima mencerminkan praktik nyata budaya kerja sosial yang tetap bertahan dan menjadi dasar ketahanan sosial masyarakat Desa Umaloya. Dari sudut pandang antropologi kritis, Walima dapat dipahami sebagai bentuk resistensi budaya terhadap masuknya nilai-nilai individualisme modern. Tradisi ini menunjukkan kemampuan masyarakat lokal dalam menyikapi perubahan tanpa meninggalkan nilai komunal dan moralitas tradisional. Oleh karena itu, Walima tidak hanya dimaknai sebagai sebuah upacara, tetapi juga sebagai ruang simbolik tempat nilai, makna, dan kekuatan sosial dinegosiasikan secara dinamis guna mempertahankan eksistensi budaya di tengah arus modernitas.