Najlatun Naqiyah
Magister Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MAKNA TRADISI RUWAH DESA BAGI PENGEMBANGAN KONSELING MULTIBUDAYA Dian Isdwiyanti; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9350

Abstract

The Ruwah Desa tradition represents a form of local wisdom within Javanese society that embodies social, spiritual, and psychological values and continues to be preserved in rural communities, including Rangkah Kidul Village, Sidoarjo Regency. This study aims to examine the meaning of the Ruwah Desa tradition and its relevance to the development of multicultural counseling grounded in local wisdom. A qualitative approach with a case study design was employed. Participants were selected purposively and included traditional leaders, religious figures, village officials, and community members actively involved in the implementation of the tradition. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis, and analyzed interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the Ruwah Desa tradition embodies values of communal spirituality, mutual cooperation, social solidarity, intergenerational value transmission, and environmental awareness, which contribute to strengthening social cohesion and collective emotional regulation within the community. These values are strongly aligned with the principles of multicultural counseling, particularly in promoting contextual, inclusive, and community-based counseling services. This study contributes to the enrichment of multicultural counseling discourse by integrating local cultural practices as psychosocial resources in counseling and guidance services. ABSTRAK Tradisi Ruwah Desa merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, dan psikologis yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat pedesaan, termasuk di Desa Rangkah Kidul, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tradisi Ruwah Desa serta relevansinya bagi pengembangan konseling multibudaya berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, melibatkan tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, dan masyarakat yang terlibat aktif dalam pelaksanaan tradisi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ruwah Desa mengandung nilai spiritualitas komunal, gotong royong, solidaritas sosial, pewarisan nilai lintas generasi, serta kepedulian terhadap lingkungan yang berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan regulasi emosi kolektif masyarakat. Nilai-nilai tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan prinsip konseling multibudaya, khususnya dalam menghadirkan layanan konseling yang kontekstual, inklusif, dan berbasis komunitas. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian konseling multibudaya melalui integrasi praktik budaya lokal sebagai sumber daya psikososial dalam layanan bimbingan dan konseling.
PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTURAL UNTUK MENUMBUHKAN KESETARAAN DAN SENSITIVITAS GENDER DI KALANGAN SISWA Wiwik Wilujeng; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9351

Abstract

Gender inequality in education, manifested through unequal role distribution, negative labeling, and bullying, can hinder students' psychological and academic development. This study focuses on analyzing the role of a multicultural counseling approach as an intervention strategy to foster gender equality and sensitivity in schools. The method used is a literature study by reviewing various theoretical references and relevant research results on multicultural counseling and gender issues. The research findings indicate that the implementation of multicultural counseling, both through individual and group services, is effective in helping students identify biased social constructs, reduce stereotypes, and develop empathy and mutual respect amidst diversity. This approach is not only preventive against discrimination but also transformative in creating an inclusive and safe school climate. The main conclusion emphasizes that multicultural counseling is a crucial instrument that requires counselor competence in recognizing cultural and gender biases, in order to create a just educational environment and support the sustainable self-actualization of all students. ABSTRAK Ketimpangan gender dalam pendidikan, yang termanifestasi melalui pembagian peran tidak seimbang, pelabelan negatif, hingga perundungan, dapat menghambat perkembangan psikologis dan akademik siswa. Penelitian ini berfokus pada analisis peran pendekatan konseling multikultural sebagai strategi intervensi untuk menumbuhkan kesetaraan dan sensitivitas gender di sekolah. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai referensi teoritis dan hasil penelitian relevan mengenai konseling multikultural dan isu gender. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi konseling multikultural, baik melalui layanan individu maupun kelompok, efektif membantu siswa mengidentifikasi konstruksi sosial yang bias, mereduksi stereotip, serta mengembangkan empati dan sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Pendekatan ini tidak hanya bersifat preventif terhadap diskriminasi, tetapi juga transformatif dalam menciptakan iklim sekolah yang inklusif dan aman. Simpulan utama menegaskan bahwa konseling multikultural merupakan instrumen krusial yang menuntut kompetensi konselor dalam mengenali bias budaya dan gender, guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang adil dan mendukung aktualisasi diri seluruh siswa secara berkelanjutan.  
PELESTARIAN BUDAYA SALIM DAN UCAP SALAM SAAT BERTEMU GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA Ida Safitri; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9352

Abstract

Culture is a vital entity passed down through generations. In the context of Indonesian education, the tradition of shaking hands and greetings holds a high urgency as a manifestation of noble character. This research is motivated by the need to strengthen character education in schools to address the decline in ethics and students' respect for educators. The main focus of this study is to analyze the implications of preserving the culture of shaking hands and greetings when meeting teachers on the formation of students' polite character. The research method applies a systematic literature study by reviewing various relevant journals over the past five years. The findings show that greetings are not merely verbal greetings, but contain a prayer for safety and a deep value of tolerance. The habit of shaking hands and greetings has consistently been proven to be able to shape polite behavior, improve the ethics of verbal and non-verbal communication, and strengthen emotional bonds and Islamic brotherhood between teachers and students. The main conclusion emphasizes that this cultural integration is very effective as an instrument for forming polite character, so it is worth preserving not only in the academic environment, but also implemented widely in students' social interactions in society. ABSTRAK Budaya merupakan entitas vital yang diwariskan secara turun-temurun, di mana dalam konteks pendidikan di Indonesia, tradisi salim dan mengucapkan salam memiliki urgensi tinggi sebagai manifestasi karakter luhur. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya penguatan pendidikan karakter di sekolah guna menanggulangi penurunan etika dan rasa hormat siswa terhadap pendidik. Fokus utama kajian ini adalah menganalisis implikasi pelestarian budaya salim dan salam saat bertemu guru terhadap pembentukan karakter kesantunan siswa. Metode penelitian menerapkan studi literatur sistematik dengan menelaah berbagai jurnal relevan dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Temuan menunjukkan bahwa salam tidak sekadar sapaan verbal, melainkan mengandung muatan doa keselamatan dan nilai toleransi yang mendalam. Pembiasaan salim dan salam secara konsisten terbukti mampu membentuk perilaku sopan santun, meningkatkan etika komunikasi verbal maupun non-verbal, serta mempererat hubungan emosional dan ukhuwah Islamiyah antara guru dan peserta didik. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi budaya ini sangat efektif sebagai instrumen pembentukan karakter yang santun, sehingga patut dilestarikan tidak hanya dalam lingkungan akademik, tetapi juga diimplementasikan secara luas dalam interaksi sosial siswa di masyarakat.    
EFEKTIVITAS KONSELING MULTIBUDAYA BERBASIS ART THERAPY DALAM REGULASI EMOSI SISWA SMP Reri Saputra; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9353

Abstract

Multicultural school environments require guidance and counseling services that are responsive to cultural diversity and students’ emotional dynamics. Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), as an Indonesian school abroad, accommodates junior high school students from diverse cultural backgrounds, which may contribute to emotional regulation challenges. This study aims to explore the role of multicultural counseling based on art therapy in supporting changes in students’ emotional regulation at Sekolah Indonesia Jeddah. The study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews with students, observations of counseling sessions, documentation of art therapy artifacts, and supporting interviews with guidance counselors and homeroom teachers. The research was conducted through three stages: pre-intervention (needs assessment), intervention in the form of multicultural counseling using art therapy, and post-intervention. Data were analyzed thematically to identify patterns of change in emotional regulation. The findings indicate improvements in emotional awareness, a shift from reactive to reflective emotional responses, the development of more adaptive emotional regulation strategies, more constructive management of social conflicts, and more positive interpretations of multicultural experiences. These findings suggest that integrating art therapy into multicultural counseling serves as an effective expressive and reflective medium for enhancing students’ emotional regulation. This study provides practical implications for the development of inclusive and culturally sensitive guidance and counseling services in multicultural school settings. ABSTRAK Lingkungan sekolah multibudaya menuntut layanan bimbingan dan konseling yang mampu merespons keberagaman latar budaya dan dinamika emosi siswa secara adaptif. Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) sebagai sekolah Indonesia di luar negeri memiliki karakteristik siswa SMP yang heterogen, sehingga berpotensi memunculkan permasalahan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai peran konseling multibudaya berbasis art therapy dalam mendukung perubahan regulasi emosi siswa SMP di Sekolah Indonesia Jeddah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan siswa, observasi proses konseling, dokumentasi artefak art therapy, serta wawancara pendukung dengan guru bimbingan dan konseling dan wali kelas. Penelitian dilaksanakan melalui tahapan pra-intervensi (asesmen kebutuhan), intervensi berupa konseling multibudaya berbasis art therapy, dan pasca-intervensi. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola perubahan regulasi emosi siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesadaran emosi, pergeseran respons emosi dari reaktif ke reflektif, berkembangnya strategi regulasi emosi yang lebih adaptif, pengelolaan konflik sosial yang lebih konstruktif, serta pemaknaan yang lebih positif terhadap pengalaman multibudaya. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi art therapy dalam konseling multibudaya berfungsi sebagai media ekspresif dan reflektif yang efektif dalam mendukung regulasi emosi siswa. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang inklusif dan sensitif budaya di lingkungan sekolah multikultural.  
MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL MELALUI KEGIATAN BUDAYA RUTINAN YASIN–TAHLIL Muhammad Rifki Adam; Ari Kusumadewi; Najlatun Naqiyah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9383

Abstract

Social interaction is the primary foundation for creating a harmonious and cohesive society. In the context of modernization, globalization, and the development of individualistic lifestyles, as well as the intensity of social interactions within society, particularly in the field of education, religious activities and local religious practices hold a strategic role as a means to foster and strengthen social ties among members of the community. The purpose of this article is to examine the routine cultural activities of Yasin-Tahlil as a means to enhance social interaction among the residents of Jatikalang Village, Krian Subdistrict. The author of this article employs a descriptive qualitative approach, utilizing literature analysis and social analysis in relation to the practical implementation of Yasin-Tahlil activities in the community. The focus is on how these activities are conducted, how the community participates, and the existing social norms. The findings of the analysis indicate that the Yasin-Tahlil activities are more than just a means of worship. In addition to strengthening the religious and cultural identity of the community, these activities can foster social cohesion, solidarity, and brotherhood. Thus, the routine of Yasin-Tahlil makes a significant contribution to improving the quality of social interaction and strengthening the social cohesion of the Jatikalang Village community. The preservation and strengthening of such cultural-religious activities are essential for promoting social harmony and the sustainability of the community's way of life in the face of social change. ABSTRAK Interaksi sosial merupakan dasar utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kohesif. Dalam konteks modernisasi, globalisasi, dan perkembangan gaya hidup individualistis, serta intensitas interaksi sosial di dalam masyarakat , khususnya di bidang pendidikan ,. Dalam konteks ini , kegiatan keagamaan dan keagamaan lokal memiliki peran strategis sebagai sarana untuk membina dan memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat . Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti kegiatan budaya rutin Yasin - Tahlil dalam rangka meningkatkan interaksi sosial di antara warga Desa Jatikalang, Kecamatan Krian. Penulis artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur dan analisis sosial dalam kaitannya dengan implementasi praktis kegiatan Yasin - Tahlil di masyarakat. Fokusnya adalah pada bagaimana kegiatan tersebut dilakukan , bagaimana masyarakat berpartisipasi , dan norma - norma sosial yang ada . Temuan analisis menunjukkan bahwa kegiatan Yasin - Tahlil lebih dari sekadar​​​​​​sarana ibadah. Selain memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat , kegiatan ini dapat menumbuhkan kohesi sosial , solidaritas dan persaudaraan . Dengan demikian , rutinitas Yasin - Tahlil memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas interaksi sosial dan memperkuat kohesi sosial masyarakat Desa Jatikalang . Pelestarian dan penguatan kegiatan budaya - keagamaan semacam ini sangat penting untuk mendorong keharmonisan sosial dan keberlanjutan cara hidup masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial.​