Literacy is one of the essential competencies that should be developed from the elementary school level to enhance students' reading, writing, critical thinking, and information comprehension skills. However, the implementation of the School Literacy Movement (Gerakan Literasi Sekolah or GLS) in many schools still faces challenges, including low reading interest among students, limited reading materials, and insufficient teacher guidance during literacy activities. To address these challenges, SD Futuhiyah developed the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program as a school literacy initiative. This study aims to describe the implementation of the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program a school literacy initiative in the fifth-grade class at SD Futuhiyah. The subjects of the study were fifth-grade students and their teacher. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that the SAHABAT PENA program was implemented in three stages, in accordance with the 2016 Ministry of Education and Culture guidelines for the School Literacy Movement (GLS) in elementary schools: the habituation stage, involving the reading of print and digital books using the Sustained Silent Reading technique; the development stage, involving the completion of reading journals that include summaries, the ADiKSiMBa elements (What, Where, When, Who, Why, and How), and moral messages; and the learning stage, which integrates scanning and skimming techniques into Indonesian Language and Pancasila Education lessons. The school also provides academic recognition to motivate students to read. The researcher concludes that the program has been successfully implemented at SD Futuhiyah; however, its effectiveness could be further maximized if teachers provided more intensive guidance particularly when students are searching for book titles and authors or reading online news and if the school expanded its reading book collection and made better use of classroom reading corners. ABSTRAK Literasi merupakan salah satu kompetensi dasar yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan memahami informasi. Namun, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di berbagai sekolah masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya minat baca peserta didik, keterbatasan bahan bacaan, serta belum optimalnya pendampingan guru dalam kegiatan literasi. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, SD Futuhiyah mengembangkan program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) sebagai salah satu kegiatan literasi sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) di kelas V SD Futuhiyah sebagai kegiatan literasi sekolah. Subjek yang diteliti terdiri dari peserta didik kelas V serta guru kelas V. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program SAHABAT PENA diimplementasikan melalui tiga tahap sesuai dengan panduan GLS di Sekolah Dasar oleh Kemendikbud tahun 2016 yaitu: tahap pembiasaan melalui kegiatan membaca buku cetak dan digital dengan teknik dalam hati berkelanjutan (Sustained Silent Reading); tahap pengembangan melalui pengisian jurnal dengan ringkasan, unsur ADiKSiMBa (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana), dan pesan moral; serta tahap pembelajaran dengan membaca menggunakan teknik membaca memindai (Scanning) dan membaca cepat (Skimming) ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila. Sekolah juga memberikan penghargaan secara akademik sebagai bentuk memotivasi peserta didik untuk membaca. Peneliti menyimpulkan bahwa program ini sudah berjalan dengan baik di SD Futuhiyah. Namun, akan jauh lebih maksimal jika guru mendampingi dan memberikan bimbingan lebih intens saat peserta didik mencari judul dan nama pengarang buku serta saat membaca teks berita lewat internet, sekolah menambah koleksi buku bacaan dan memanfaatkan sudut baca kelas dengan baik.