Asih Rachmani Endang Sumiwi
SINTA ID: 6687032,Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Membangun Strategi Gereja Berdasar Kisah Para Rasul 4:1-31 Terhadap Gerakan Keagamaan yang Konfrontatif Asih Rachmani Endang Sumiwi; Yusak Sigit Prabowo
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1028

Abstract

This study aims to formulate a church strategy in dealing with confrontational religious movements by using a contextual hermeneutic approach to Acts 4:1-31. The issues behind this research are polarization and challenges to religious freedom that require the church to not only remain silent but respond wisely. This qualitative research uses contextual hermeneutic methods to analyze the text, then formulate relevant theological principles and strategies. The results of the study show that the response of the early church was not physical resistance, but rather a response rooted in a strong theological foundation, namely the absolute sovereignty of God (Despotes) and community solidarity. This results in the courage (parrhesia) to continue to testify. Based on these findings, the study formulated three elements of strategies for the church: (1) Faith-Based Strategies to strengthen congregational understanding, (2) Community-Based Strategies to build internal solidarity, and (3) Testimonial-Based Strategies to act with compassionate courage. Thus, this study concludes that effective church responses are proactive and transformative, not reactive and confrontational. This aims to maintain the testimony, harmony, and integrity of the church in the midst of a pluralistic society. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi gereja dalam menghadapi gerakan keagamaan yang konfrontatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika kontekstual terhadap Kisah Para Rasul 4:1-31. Isu-isu yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya polarisasi dan tantangan terhadap kebebasan beragama yang menuntut gereja untuk tidak hanya berdiam diri, tetapi merespons secara bijaksana. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode hermeneutika kontekstual untuk menganalisis teks, kemudian merumuskan prinsip-prinsip teologis dan strategi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons gereja mula-mula bukanlah perlawanan fisik, melainkan respons yang berakar pada fondasi teologis yang kuat, yaitu kedaulatan mutlak Allah (Despotes) dan solidaritas komunitas. Hal ini menghasilkan keberanian (parrhesia) untuk terus bersaksi. Berdasarkan temuan ini, penelitian merumuskan tiga elemen strategi bagi gereja: (1) Strategi Berbasis Iman untuk menguatkan pemahaman jemaat, (2) Strategi Berbasis Komunitas untuk membangun solidaritas internal, dan (3) Strategi Berbasis Kesaksian untuk bertindak dengan keberanian penuh kasih. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa respons gereja yang efektif adalah yang proaktif dan transformatif, bukan reaktif dan konfrontatif. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesaksian, kerukunan, dan integritas gereja di tengah masyarakat plural.
Analisis Frasa “Penuh Roh” dalam Berbagai Peristiwa di Kisah Para Rasul dan Penerapan Prinsip-prinsip Teologisnya pada Masa Kini Wisye Agnes Saubaki; Asih Rachmani Endang Sumiwi
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1041

Abstract

This study examines the phrase “full of the Spirit” in the Book of Acts with the aim of understanding its complex theological meaning and applying its theological principles today. Although this phrase is often understood simply as an emotional experience, theological and exegetical analysis of the Greek text shows that its meaning includes empowerment to carry out missions and courage to witness, character necessary for ministry, endurance in the midst of suffering, and divine authority. This study also highlights the functional difference between the Greek terms pl?r?s (which indicates a continuous quality of character) and pl?th? (which refers to a temporal or temporary empowerment that occurs at a specific time for a specific purpose). The application of these principles today emphasizes the importance of the church prioritizing dependence on the Holy Spirit in carrying out its mission, making spiritual integrity the primary standard of leadership, relying on the power of the Holy Spirit in facing challenges, and carrying out the mission with divine authority. The novelty of this research lies in its comprehensive approach, which combines Greek language analysis with practical application, thereby challenging superficial views and offering a richer and more relevant theological understanding of the role of the Holy Spirit. Penelitian ini mengkaji frasa “penuh Roh” dalam Kitab Kisah Para Rasul dengan tujuan memahami makna teologisnya yang kompleks dan menerapkan prinsip-prinsip teologisnya pada masa kini. Meskipun frasa ini sering dipahami secara sederhana sebagai pengalaman emosional, analisis teologis dan eksegetis teks Yunani menunjukkan bahwa maknanya mencakup pemberdayaan untuk melaksanakan misi dan keberanian untuk bersaksi, karakter yang diperlukan untuk pelayanan, ketahanan di tengah penderitaan, dan otoritas ilahi. Penelitian ini juga menyoroti perbedaan fungsional antara istilah Yunani pl?r?s (yang menunjukkan kualitas karakter yang berkelanjutan) dan pl?th? (yang merujuk pada pemberdayaan yang bersifat temporal atau sementara yang terjadi pada saat tertentu untuk tujuan tertentu). Penerapan prinsip-prinsip ini pada masa kini menekankan pentingnya gereja memprioritaskan ketergantungan pada Roh Kudus dalam melaksanakan misi, menjadikan integritas rohani sebagai standar utama kepemimpinan, bergantung pada kuasa Roh Kudus dalam menghadapi tantangan, dan melaksanakan misi dengan otoritas ilahi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan komprehensifnya, yang menggabungkan analisis bahasa Yunani dengan penerapan praktis, sehingga menantang pandangan yang dangkal dan menawarkan pemahaman teologis yang lebih kaya dan relevan tentang peran Roh Kudus
Perselisihan Paulus dan Barnabas: Tanda Gereja yang Hidup dan Berpikir Ira Suwitomo Putri; Asih Rachmani Endang Sumiwi
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1195

Abstract

Paul and Barnabas were central figures in the spread of the gospel in the early church, but their partnership was marred by a sharp dispute over John Mark's participation in the second missionary journey. This article aims to revisit the conflict from a progressive perspective, arguing that it is not a failure of ministry, but a reflection of a church that is alive and has the ability to think critically for the sake of common progress. This study uses a historical-descriptive analysis method with an exegetical approach to trace the roots of the conflict and the reasons behind the decisions of the two figures. The analysis shows that the tensions that occurred were rooted in differences in strategic considerations: Paul emphasized full commitment and mission effectiveness, while Barnabas emphasized the value of grace, forgiveness, and a second chance for individual recovery. The separation that occurred eventually became a "win-win solution" that actually accelerated the expansion of the reach of the gospel ministry to a wider area. This article concludes that strife is a natural part of human life and the church; For the Church today, disputes do not need to be avoided, but can be an instrument to mature character and expand the capacity of ministry, provided it is managed with spiritual maturity and openness in opinion.   Paulus dan Barnabas merupakan tokoh sentral dalam penyebaran Injil pada masa jemaat mula-mula, namun kemitraan mereka diwarnai oleh perselisihan tajam mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan misi kedua. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali perselisihan tersebut dari sudut pandang progresif, dengan mengajukan argumen bahwa konflik tersebut bukan merupakan kegagalan pelayanan, melainkan cerminan dari gereja yang hidup dan memiliki kemampuan berpikir kritis demi kemajuan bersama. Penelitian ini menggunakan metode analisis historis-deskriptif dengan pendekatan eksegetis untuk menelusuri akar konflik serta alasan di balik keputusan kedua tokoh tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi berakar pada perbedaan pertimbangan strategis: Paulus menitikberatkan pada komitmen penuh dan efektivitas misi, sementara Barnabas mengedepankan nilai anugerah, pengampunan, dan kesempatan kedua bagi pemulihan individu. Perpisahan yang terjadi akhirnya menjadi "win-win solution" yang justru mempercepat perluasan jangkauan pelayanan Injil ke wilayah yang lebih luas. Artikel ini menyimpulkan bahwa perselisihan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia dan gereja; bagi gereja masa kini, perselisihan tidak perlu dihindari, melainkan dapat menjadi instrumen untuk mematangkan karakter dan memperluas kapasitas pelayanan, asalkan dikelola dengan kedewasaan rohani dan keterbukaan dalam berpendapat.