Azhar Amrullah Hafizh
Universitas Islam Negeri Madura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Confirming the Reliability of the Ma’nā-cum-maghzā Approach to Mansūkhah Verse: : Case Study of QS. Al-Baqarah (2): 240 Azhar Amrullah Hafizh; Rusdiana Navlia; Muhammad Uzaer Damairi; Eko Zulfikar
REVELATIA Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/revelatia.v6i2.21132

Abstract

In the ma’nā-cum-maghzā approach to Qur'anic interpretation, Sahiron states that the paradigm that builds this approach is the absence of nasakh in the Qur'an. This raises questions about the existence of verses that are considered mansūkhah in the Qur'an, which for most tafsir scholars is positioned as a consensus. This article seeks to examine the reliability of the ma’nā-cum-maghzā approach, especially in the meaning and significance of verses that are considered mansūkhah by most scholars of interpretation and reveal the significance and meaning of QS. Al-Baqarah verse 240 regarding the length of the iddah period for women whose husbands die is one full year. This research is a type of library research with a ma’nā-cum-maghzā approach to the mansūkhah verse which is analyzed using content analysis. This study shows that, first, the ma'nā-cum-maghzā approach is quite reliable in interpreting QS. Al-Baqarah verse 240 because there are still scholars who interpret it based on negating nasakh, such as al-Tabari and al-Razi. In addition, the ma'nā-cum-maghzā approach reinforces the universal values contained in the Qur'an. Second, QS. Al-Baqarah verse 240 is a way for the Rasulullah Saw., gradually, to position women with dignity both economically and socially. This study contributes to strengthening the ma'nā-cum-maghzā approach, which can be a methodological alternative in reading verses that have been understood as mansūkhah, while also opening up space for a more contextual reading of the Qur'an that is gender-equitable and oriented towards universal ethical values.
Epistemologi Tafsir Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38: Analisis Perspektif History of Idea Eko Zulfikar; Adrika Fithrotul Aini; Azhar Amrullah Hafizh; Afriadi Putra
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.2163

Abstract

Perkembangan tafsir al-Qur’an di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang semakin kontekstual dalam merespons berbagai persoalan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Namun, kajian yang secara khusus mengkaji landasan epistemologis penafsiran mufasir kontemporer masih relatif terbatas. Artikel ini bertujuan menelaah epistemologi penafsiran yang dilakukan Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis teori History of Idea, artikel ini menyimpulkan sebagai berikut. Pertama, epistemologi penafsiran kontekstual Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38 tampak jelas mempertimbangkan konteks ayat yang hendak ditafsirkan dengan menempatkan empat prinsip dan metode penafsiran, yaitu konteks internal, konteks linguistik, konteks sosio-historis, dan konteks sosio-politik. Selain itu, penafsiran yang dilakukan Wahyudi menunjukkan koherensi dan konsisten dengan proposisi yang dibangunnya, serta konsisten dengan teori korespondensi dan pragmatisme. Hal ini karena Wahyudi meyakini bahwa penafsiran yang benar dapat memberikan solusi terhadap problem sosial di masyarakat. Kedua, dalam perspektif History of Idea, epistemologi penafsiran Wahyudi konsisten dengan keabsahan penafsiran era reformasi dengan penalaran kritis. Nalar kritis digunakan Wahyudi untuk melihat makna al-Qur’an dengan mengabaikan penafsiran-penafsiran sebelumnya yang dianggap kurang relevan dalam konteks kekinian. Bahkan, Wahyudi mengupayakan untuk memasukkan ilmu-ilmu pengetahuan modern seperti ilmu sosial dan humaniora ke dalam penafsirannya, sehingga dapat membawa penafsiran ke arah baru dengan mengedepankan indikator cinta tanah air dan pentingnya ideologi Pancasila. Artikel ini berkontribusi dalam memperkaya kajian epistemologi tafsir kontemporer di Indonesia dengan menunjukkan bahwa pendekatan History of Idea dapat digunakan untuk menjelaskan genealogi intelektual, konstruksi epistemologis, dan transformasi paradigma penafsiran al-Qur’an dari orientasi tekstual menuju kontekstual.