Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Stratifikasi Sosial Ondhâg Bâsa Bahasa Madura Mulyadi Mulyadi; Umar Bukhory
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v16i1.2403

Abstract

Bahasa Madura, sebagai bahasa, mengalami kepadatan linguistik dan non-linguistik. Namun harus bersaing dengan bahasa nasional dan internasional untuk bertahan hidup sebagai lingua franca. Secara bertahap ditinggalkan oleh penuturnya karena kompleksitas morfologis, prestise, dan praktik komunikasi. Fenomena ini menginspirasi penulis untuk melakukan studi bagaimana penutur Madura menerima bahasa mereka sendiri dan harus menyelidiki karakteristik sosial penutur. Kelas menengah adalah salah satu stratifikasi sosial yang cenderung lebih fleksibel dalam menolak dan mengambil budaya baru dan bahasa adalah bagian dari budaya. Penulis memfokuskan penelitian tentang bagaimana kelas menengah Pamekasan melakukan Madura Ondhâg Bâsa dan bagaimana kelas menengah Pamekasan menerima Ondhâg Bâsa. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dan fenomenologi dalam pendekatan. Hasil penelitian: pertama, kelas menengah Pamekasan sebagian besar menggunakan stratifikasi Madura tingkat rendah, bâsa mabâ, dipertukarkan dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari alih-alih mempraktikkan stratifikasi tingkat Madura yang lebih tinggi menengah (bása alos) dan tingkat tinggi (bâsa tèngghi). Situasi bahasa ini mudah ditemukan pada percakapan antara pasangan suami-istri, anak-anak dan orang tua, saudara kandung, lingkungan baik dalam situasi formal dan non-formal. Kedua, dari temuan ini dapat secara interpretatif dijelaskan bahwa Ondhâg Bâsa Madura diterima dengan cara-cara berikut: sebagai ungkapan keadilan, strategi kesopanan, strategi ice breaking, pernyataan posisi, percepatan prestise, dan strategi ekonomi. (Madurese, as language, experience linguistic and non-linguistic densities. It must compete to national and international languages to survive as lingua franca; it is gradually left by its speakers due to its morphological complexity, prestige, and communication practice. This inspires to conduct a study how the Madurese speaker accept their own language and must also investigate the social characteristics of the speakers. Middle class is one of the social stratifications that tend to be more flexible in rejecting and taking new culture and language is part of culture. The writer focuses the research on how middle class of Pamekasan perform Madurese Ondhâg Bâsa and how middle class of Pamekasan accept Ondhâg Bâsa. Qualitative design and phenomenology in approach of this research. The result: firstly, the middle class of Pamekasan mostly use the low level of Madurese stratification, bâsa mabâ, interchangeably with Indonesian in daily conversation instead of practice the higher level of Madurese stratification middle (bâsa alos) and high level (bâsa tèngghi). Secondly, from this finding it could be interpretatively described that Madurese Ondhâg Bâsaare accepted in the following ways: as the expression of equity, strategy of politeness, strategy of ice breaking, statement of position, prestige acceleration, and economic strategy.) 
Dampak Kekuasaan, Antara Hasrat dan Kebutuhan:: Kontekstualisasi kata al-mulk dalam Al-Qur’an QS. Āli ‘Imrān (3): 26 Bukhory, Umar; Mubarok, Ghozi
REVELATIA Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/revelatia.v6i2.22487

Abstract

The year 2024 is a political year in Indonesia, with general elections. As a mandate to be fulfilled, becoming a leader, holding power, or holding public office has the potential to be disastrous for the region they govern if carried out by those lacking the necessary competence and skills. This article aims to explain the meaning and impact of power based on the interpretation of QS. Ali ‘Imran (3): 26. This study uses contextual analysis as part of the study of the Semantics of the Qur'an, because it assumes the relationship of certain texts with their historical and linguistic contexts, as well as a socio-textual approach, which connects the study of interpretation with the socio-political concept in the Islamic treasury. The conclusion of this study is that, based on its original meaning, power belongs to God universally and absolutely, and is also part of His will. As the owner of power, God grants and/or withdraws it from humans, based on all His goodness. Power can impact the humiliation and glory of those who exercise it, so they must exercise it with humility, full responsibility, and complete trust (faith) in its absolute owner. The contextualization of these three qualities gives rise to the nature of a leader as a servant of the society interests, just and wise, open to criticism, wise in making decisions based on the principle of deliberation, high integrity and accountability, and able to cooperate with others harmoniously.
Dampak Kekuasaan, Antara Hasrat dan Kebutuhan:: Kontekstualisasi kata al-mulk dalam Al-Qur’an QS. Āli ‘Imrān (3): 26 Umar Bukhory; Ghozi Mubarok
REVELATIA Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/revelatia.v6i2.22487

Abstract

The year 2024 is a political year in Indonesia, with general elections. As a mandate to be fulfilled, becoming a leader, holding power, or holding public office has the potential to be disastrous for the region they govern if carried out by those lacking the necessary competence and skills. This article aims to explain the meaning and impact of power based on the interpretation of QS. Ali ‘Imran (3): 26. This study uses contextual analysis as part of the study of the Semantics of the Qur'an, because it assumes the relationship of certain texts with their historical and linguistic contexts, as well as a socio-textual approach, which connects the study of interpretation with the socio-political concept in the Islamic treasury. The conclusion of this study is that, based on its original meaning, power belongs to God universally and absolutely, and is also part of His will. As the owner of power, God grants and/or withdraws it from humans, based on all His goodness. Power can impact the humiliation and glory of those who exercise it, so they must exercise it with humility, full responsibility, and complete trust (faith) in its absolute owner. The contextualization of these three qualities gives rise to the nature of a leader as a servant of the society interests, just and wise, open to criticism, wise in making decisions based on the principle of deliberation, high integrity and accountability, and able to cooperate with others harmoniously.
Budaya Dalam Perspektif Dakwah: (Studi Tentang Tradisi “Terbhangan Al-Hilal” Di Dusun Tacempah Desa Plakpak Pegantenan Pamekasan) Siti Nurul Hasanah; Umar Bukhory
Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/meyarsa.v1i2.3949

Abstract

Terbhangan (hadrah) merupakan salah satu seni musik Islam yang masih dilestarikan di Dusun Tacempah Desa Plakpak hingga saat ini. Terbhangan di Dusun Tacempah khususnya terbhangan Al-Hilal ini berbeda dengan terbhangan yang ada di berbagai kota bahkan di berbagai belahan dunia. Perbedaan tersebut terletak pada semua yang terdapat pada terbhangan tersebut, baik dari pukulan terbhang dan jenisnya, gerakan tari yang dilakukan oleh penari beserta nama-namanya, hingga shalawat yang dibaca hadi. Namun, tidak dipungkiri ada persaman antara terbhangan Al-Hilal dan terbhangan lainnya. Selain perbedaan tersebut, ada makna simbolik yang terkandung di dalamnya sehingga akan menarik jika dikaji secara mendalam, seperti persoalan nilai-nilai dakwah dari keseluruhan tradisi terbhangan Al-Hilal dan makna simbolik dari gerakan tari yang dilakukan anggota penari. Berdasarkan hal tersebut, maka ada dua permasalahan yang menjadi kajian pokok dalam penelitian ini, yaitu; pertama, apakah nilai-nilai dakwah dalam tradisi terbhang Al-Hilal di Dusun Tacempah Desa Plakpak Pegantenan Pamekasan? kedua, apakah makna simbolik dari tradisi terbhangan Al-Hilal di Dusun Tacempah Desa Plakpak Pegantenan Pamekasan?. Dari rumusan masalah ini, akan dikuak makna-makna yang ada dalam keseluruhan terbhangan Al-Hilal juga nilai dakwah yang terkandung di dalamnya karena esinsi dari terbhangan adalah bagaimana masyarakat bisa mengetahui dan memahami makna dan nilai dakwah yang ada pada terbhangan Al-Hilal. Secara metodologis, penggalian data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara secara mendalam, observasi partisipan pasif (pengamatan), dan analisis dokumentasi. Kemudian data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif etnografis dengan analisis semiotika teori Rolend Barthes. Dari pendekatan serta analisis tersebut dapat ditemukan beberapa hal sebagai berikut; pertama, Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak nilai dakwah dalam keseluruhan tradisi terbhang Al-Hilal. kedua, hampir keseluruhan gerakan tari dalan terbhangan Al-Hilal memiliki makna simbolik yang mendominasi makna tauhidiyah dan akhlak. Namun, tidak banyak yang mengetahui nilai-nilai dakwah dan makna simbolik yang ada pada tradisi terbhangan Al-Hilal baik dari anggota maupun masyarakat Dusun Tacempah Desa Plakpak Pegantenan Pamekasan.