Sabar Setiawan
Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat dalam Mengelola Obat Sisa dan Obat Kedaluwarsa di Rumah Tangga di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram En Purmafitriah; Menap Menap; Sabar Setiawan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21825

Abstract

ABSTRACT Household management of leftover and expired medications is a critical issue impacting public health and environmental sustainability. Improperly managed leftover and expired medications have the potential to pollute the environment and endanger health. Lack of knowledge and information is a major cause of inappropriate medication disposal. This study aims to analyze factors influencing community behavior in managing leftover and expired medications in Sekarbela District, Mataram City. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 100 respondents was selected using consecutive sampling. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed using path analysis with SPSS. The results showed that information media had a significant influence (0.002) on community behavior, health promotion programs had a significant influence (0.032) on community behavior, and public knowledge had a significant influence (0.000) on community behavior. Thus, information media and health promotion programs have a direct and indirect influence through knowledge, significantly affecting community behavior. Public behavior in managing leftover and expired medications is influenced by information media, health promotion programs, and knowledge. Keywords: Leftover Medications, Expired Medications, Knowledge, Behavior.  ABSTRAK Pengelolaan obat sisa dan obat kedaluwarsa di rumah tangga menjadi isu penting yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Obat sisa dan kedaluwarsa yang tidak dikelola dengan benar di rumah tangga berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan. Kurangnya pengetahuan dan informasi menjadi salah satu penyebab utama perilaku pembuangan obat yang tidak sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola obat sisa dan obat kedaluwarsa di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 100 responden yang dipilih secara consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya, lalu hasil pengisian kuesioner dianalisis menggunakan analisis jalur dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media informasi berpengaruh secara signifikan (0,002) terhadap perilaku masyarakat, program promkes berpengaruh secara signifikan (0,032) terhadap perilaku masyarakat dan pengetahuan masyarakat berpengaruh secara signifikan (0,000) terhadap perilaku masyarakat. Dengan demikian, media informasi dan program promkes memiliki pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung melalui pengetahuan secara signifikan terhadap perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat dalam mengelola obat sisa dan obat kedaluwarsa dipengaruhi oleh media informasi, program promosi kesehatan, dan pengetahuan.  Kata Kunci: Obat Sisa, Obat Kedaluwarsa, Pengetahuan, Perilaku.
Evaluasi Kolaborasi Puskesmas dengan LSM dalam Penanggulangan HIV pada Kelompok Risiko LSL di Puskesmas PDP Kota Mataram Nila Imtihani; Menap Menap; Sabar Setiawan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24477

Abstract

ABSTRACT HIV prevention among Men who have Sex with Men requires collaboration between primary health facilities and community-based organizations to overcome service access barriers and deeply rooted social stigma in society. Objective to evaluate the implementation, process, outcomes, and challenges of collaboration between Community Health Centers and Non-Governmental Organizations in HIV prevention among Men who have Sex with Men risk groups in Mataram City. Descriptive evaluative qualitative research using in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies involving seventeen informants including Community Health Center heads, HIV program managers, Non-Governmental Organization staff, People Living with HIV/AIDS, and Health Office officials conducted during October to November 2025 at four Care Support and Treatment Community Health Centers. Collaboration functioned effectively and adaptively with complementary role division that improved service access, antiretroviral treatment adherence, and continuity of care for key populations. Coordination mechanisms combined informal and formal communication with a single-door reporting system through Community Health Centers. Main constraints included limited human resources, absence of standardized collaboration operational procedures, dependence on personal relationships, and persistent strong social stigma toward HIV. Collaboration proved effective in enhancing HIV program achievements but requires strengthening of institutional aspects, formal governance, and policy support to ensure long-term sustainability. Keywords: Community Health Center Collaboration, Non-Governmental Organizations, HIV Prevention.  ABSTRAK Penanggulangan HIV pada kelompok Laki-laki Seks dengan Laki-laki memerlukan kolaborasi antara fasilitas kesehatan primer dengan organisasi berbasis komunitas untuk mengatasi hambatan akses layanan dan stigma sosial yang masih mengakar di masyarakat. Tujuan mengevaluasi pelaksanaan, proses, hasil, dan tantangan kolaborasi Puskesmas dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam penanggulangan HIV pada kelompok risiko Laki-laki Seks dengan Laki-laki di Kota Mataram. Penelitian kualitatif deskriptif evaluatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tujuh belas informan meliputi Kepala Puskesmas, penanggung jawab program HIV, petugas Lembaga Swadaya Masyarakat, Orang dengan HIV/AIDS, dan pejabat Dinas Kesehatan yang dilaksanakan pada periode Oktober hingga November 2025 di empat Puskesmas Perawatan Dukungan dan Pengobatan. Kolaborasi berjalan secara fungsional dan adaptif dengan pembagian peran komplementer yang meningkatkan akses layanan, kepatuhan pengobatan antiretroviral, dan keberlanjutan perawatan pada populasi kunci. Mekanisme koordinasi menggabungkan komunikasi informal dan formal dengan sistem pelaporan satu pintu melalui Puskesmas. Kendala utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, belum tersedianya Standar Operasional Prosedur kolaborasi yang baku, ketergantungan pada hubungan personal, dan masih kuatnya stigma sosial terhadap HIV. Kolaborasi terbukti efektif meningkatkan capaian program HIV namun memerlukan penguatan aspek kelembagaan, tata kelola formal, dan dukungan kebijakan untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang. Kata Kunci: Kolaborasi Puskesmas, Lembaga Swadaya Masyarakat, Penanggulangan HIV.