Saifullah
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Hermeneutika Hans-Georg Gademer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist: Studi Metodologi di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Fajar Illahi; Muhammad Farhan Firas; Saifullah
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2026): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v2i2.165

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi hermeneutika filosofis yang dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Studi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengembangan pendekatan metodologis dalam studi Al-Qur’an dan Hadis yang berorientasi pada transmisi makna tekstual, dan konteks sosial yang terus berkembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan angket yang melibatkan 41 responden yang terdiri dari santri dan tenaga pendidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi hermeneutika Gadamer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis berlangsung secara substantif. Pembelajaran tetap bertumpu pada metodologi tafsir klasik melalui penggunaan kitab turats dan qawā‘id lughawiyyah. Namun demikian, proses pembelajaran juga memberikan ruang dialog antara warga pesantren terhadap makna teks dalam konteks kehidupan kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan adanya perjumpaan antara. horizon tradisi keilmuan pesantren, dan horizon pengalaman aktual santri yang mencerminkan konsep fusion of horizons dalam hermeneutika Gadamer. Selain itu, kesadaran terhadap kesinambungan tradisi keilmuan juga mencerminkan konsep Wirkungsgeschichte, sementara pengalaman dan latar belakang santri dalam memahami teks menunjukkan adanya dimensi Vorverständnis. Integrasi tersebut menghasilkan model pembelajaran yang menekankan transmisi pengetahuan normatif, serta terbentuknya kesadaran interpretatif yang reflektif, dan mampu menghadirkan pemahaman keagamaan yang tetap berakar pada turats juga relevan dengan dinamika masyarakat modern
Recontextualizing Maulana Abul Kalam Azad’s Educational Philosophy for AI Ethics and Education Saifullah; Saidul Amin; Deswita; Sukiyat; Dasman Yahya; Rina Rehayati; Dewi Cahyarani; Putri Angraini
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing use of artificial intelligence (AI), particularly generative AI in educational contexts, raises epistemological and ethical questions concerning how knowledge is produced, evaluated, and used. This study recontextualizes Maulana Abul Kalam Azad’s philosophy of education as a framework for examining these challenges. Employing qualitative library research, the study combines hermeneutic interpretation, conceptual analysis, and philosophical recontextualization. Azad’s Tarjuman al-Qur’an and India Wins Freedom are examined alongside selected works on information philosophy, Islamic epistemology, AI ethics, and AI in education. The analysis reconstructs key dimensions of Azad’s epistemology concerning reason, revelation, knowledge, moral responsibility, and human development, and subsequently brings them into dialogue with contemporary challenges associated with AI-mediated education. The analysis suggests that computational efficiency and functional performance alone are insufficient criteria for educational knowledge and judgment. Based on this conceptual correspondence, the study develops a Synthetic Epistemology Model comprising three interconnected dimensions: technological intelligence, ethical judgment, and spiritual/value-oriented consciousness. The model positions AI as a technological instrument whose educational significance depends on human interpretation, ethical oversight, and the purposes guiding its use. The study does not claim that Azad anticipated contemporary AI; rather, it proposes a normative recontextualization of his epistemological principles for current educational challenges. The study contributes a philosophical framework for integrating technological capability with critical reasoning, ethical responsibility, and human development in AI-mediated education.