p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Feliks Erasmus Arga
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan PMKRI Jakarta Pusat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Allah Bukanlah Proyeksi: : Kritik Franz Magnis Terhadap Ateisme Feuerbach Feliks Erasmus Arga
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.368

Abstract

Feuerbach adalah tokoh yang disebut sebagai pelopor filsuf ateis. Teori proyeksi yang ia ungkapkan menjadi dasar bagi teori-teori ateisme selanjutnya. Akan tetapi, menurut Magnis, teori proyeksi Feuerbach memiliki sebuah kesalahan berpikir. Selain kritik yang diberikan, Magnis juga menunjukkan bahwa petunjuk-petunjuk akan keberadaan Allah dapat dinalar oleh manusia. Atas dasar tersebut, tulisan ini hendak menjelaskan mengenai teori proyeksi Feuerbach dan kritik Magnis terhadapnya. Artikel ini disusun dengan menggunakan metode analisis pustaka, terutama buku Feuerbach yang berjudul The Essence of Christianity dan buku Magnis yang berjudul Menalar Tuhan. Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa dengan adanya Tuhan, keberadaan alam semesta menjadi semakin logis.
Zaman Bergerak: Pergerakan Wong Cilik Jawa Awal Abad Ke-20 Feliks Erasmus Arga; Fabianus Karo; Bilal Younas; Julanop Kopkungoenthong
Dekonstruksi Vol. 12 No. 02 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 02, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i02.390

Abstract

Artikel ini merefleksikan pergerakan wong cilik Jawa Tengah pada awal abad ke-20 dengan merujuk pada buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishi. Fokus utama tulisan ini adalah menganalisis bagaimana kesadaran sosial-politik rakyat pribumi dapat tumbuh di bawah struktur kolonial Hindia Belanda yang menindas melalui organisasi Sarekat Islam sebagai ruang artikulasi kolektif. Artikel ini menunjukkan bahwa cara berpikir wong cilik pada masa itu masih dipengaruhi oleh apa yang disebut Tan Malaka sebagai ‘logika mistika’, yakni cara memahami realitas sosial melalui simbol, harapan keadilan, dan pengalaman hidup konkret, yang kerap dinilai secara negatif oleh pemikiran rasional-modern. Namun, alih-alih menjadi hambatan, ‘logika mistika’ justru menyediakan horizon makna yang memungkinkan wong cilik menafsirkan ketidakadilan kolonial dan meresponsnya secara kolektif. Pandangan tersebut membawa perubahan praksis sosial yang tercermin dalam sikap terhadap otoritas kolonial, relasi sosial, dan keberanian tampil di ruang publik. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa pergerakan wong cilik tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil rasionalisasi politik modern, melainkan sebagai proses historis yang berakar pada pengalaman penindasan dan cara berpikir khas rakyat pribumi. Untuk menganalisis penindasan kolonial tersebut, artikel ini menggunakan konsep bio-politik dan panoptikon dari Michel Foucault. Sementara untuk merefleksikan politik pembebasan yang dilakukan oleh wong cilik, artikel ini menggunakan konsep mesianisme Walter Benjamin.