Cahyani Frahmawati
Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Palangka Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakterisasi Fisis dan Laju Pembakaran Briket Sebagai Energi Terbarukan Berbasis Kombinasi Tempurung Kelapa, Kulit Singkong dan Kulit Jagung Ade Hutauruk; Alvia Jahra; Cahyani Frahmawati; Adinda Martha Angeline; Atunia; Yoga; Kadek Ayu Cintya Adelia
Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application Vol. 6 No. 1 (2026): Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application
Publisher : Program Studi Fisika - Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/magnetic.v6i1.737

Abstract

The quality of biomass briquettes is largely determined by the type of raw material and the manufacturing process, especially in efforts to develop waste-based alternative fuels. This research analyzes the effect of the combination of coconut shells with cassava skins and corn husks on the physical properties and burning rate of briquettes using tapioca flour adhesive. Test results show that variations in biomass produce significantly different combustion characteristics. Cassava husk–coconut shell based briquettes showed a higher combustion rate (0.24 g/minute), while corn husk–coconut shell briquettes produced more stable combustion with a lower rate (0.17 g/minute). Even though the water content of the two briquettes is still within acceptable limits, the high ash content (>25%) is the main limiting factor because it does not meet the SNI 01-6235-2000 standard and has the potential to reduce energy efficiency. These findings confirm that the selection of biomass type and control of the carbonization process play a crucial role in determining the performance of briquettes. Optimizing production parameters is needed so that agricultural waste-based biomass briquettes can be developed as an alternative fuel that meets national quality standards and supports a sustainable energy transition.
Simulasi Pengaruh Kedalaman Tumor terhadap Distribusi Dosis Radiasi Menggunakan Model Atenuasi Eksponensial Berbasis Python Cahyani Frahmawati; Kadek Ayu Cintya Adelia
Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application Vol. 6 No. 2 (2026): Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application
Publisher : Program Studi Fisika - Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/magnetic.v6i2.870

Abstract

Distribusi dosis radiasi merupakan faktor penting dalam perencanaan radioterapi karena menentukan keberhasilan penyampaian dosis terapeutik pada jaringan tumor sekaligus meminimalkan paparan terhadap jaringan sehat di sekitarnya. Salah satu faktor yang memengaruhi distribusi dosis adalah kedalaman tumor, yang berkaitan dengan proses atenuasi radiasi di dalam jaringan biologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kedalaman tumor terhadap distribusi dosis radiasi menggunakan simulasi numerik berbasis Python. Simulasi dilakukan dengan menerapkan model atenuasi eksponensial untuk merepresentasikan penurunan dosis terhadap kedalaman jaringan serta fungsi Gaussian untuk menggambarkan puncak distribusi dosis pada lokasi tumor. Variasi kedalaman tumor yang dianalisis meliputi 1 cm, 3 cm, 5 cm, dan 10 cm pada rentang kedalaman jaringan 0–15 cm dengan koefisien atenuasi sebesar 0,15 cm?¹. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan kedalaman tumor menyebabkan puncak distribusi dosis bergeser ke arah jaringan yang lebih dalam disertai penurunan intensitas dosis akibat proses atenuasi. Dosis relatif maksimum menurun dari 1,66 pada kedalaman tumor 1 cm menjadi 1,02 pada kedalaman 10 cm, atau mengalami penurunan sebesar 38,55% dibandingkan kondisi acuan. Visualisasi distribusi dosis yang dihasilkan mampu menggambarkan hubungan antara kedalaman tumor dan karakteristik penyebaran dosis radiasi secara jelas. Penelitian ini menunjukkan bahwa model simulasi berbasis Python mampu merepresentasikan pengaruh kedalaman tumor terhadap distribusi dosis radiasi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai media pembelajaran serta pendekatan awal dalam analisis dosimetri sebelum penerapan metode komputasi yang lebih kompleks.