M. Zainuddin
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RELEVANSI MATA PELAJARAN IPS DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Silvia Qotrun Nada; M. Zainuddin
Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/dsjpips.v5i1.15458

Abstract

Critical thinking is an essential skill that students must possess to face the challenges of the 21st century. This ability helps students analyze information, make decisions, and solve problems logically. However, international assessment results such as PISA 2022 indicate that Indonesian students still have low literacy and numeracy levels, reflecting weak critical thinking skills. One of the subjects relevant to the development of critical thinking is Social Studies. This subject equips students with an understanding of history, geography, economics, and social life, which can encourage reflective and analytical thinking. Therefore, the effectiveness of Social Studies instruction is key to enhancing critical thinking skills. This study aims to examine how Social Studies instruction is implemented to develop the critical thinking skills of Grade VIII students at MTs Hidayatul Mubtadi’in, how students perceive the relevance of the subject and its teaching methods, and how effective Social Studies is in enhancing critical thinking. The research uses a mixed-methods approach, collecting quantitative data through the Critical Thinking Questionnaire and analyzing it using SPSS. The qualitative approach is carried out through interviews, classroom observations, and document analysis of student assignments. The results show that Social Studies instruction at MTs Hidayatul Mubtadi’in has contributed to improving students' critical thinking skills. Interactive methods such as discussions, case studies, and problem-based learning have proven to be effective. Most students demonstrated critical thinking abilities ranging from moderate to high levels, although some were still in the low category. Thus, Social Studies instruction plays an important role in developing students' critical thinking skills. However, improvements and innovations in teaching are still needed to achieve more equitable and optimal outcomes across all student groups. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Kemampuan ini membantu siswa menganalisis informasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah secara logis. Namun, hasil asesmen internasional seperti PISA 2022 menunjukkan bahwa literasi dan numerasi siswa Indonesia masih rendah, mencerminkan lemahnya kemampuan berpikir kritis. Salah satu mata pelajaran yang relevan dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran ini membekali siswa dengan pemahaman tentang sejarah, geografi, ekonomi, dan kehidupan sosial yang dapat mendorong mereka berpikir secara reflektif dan analitis. Oleh karena itu, efektivitas pembelajaran IPS menjadi kunci dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran IPS diterapkan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII di MTs Hidayatul Mubtadi’in, serta bagaimana pandangan siswa terhadap relevansi mata pelajaran IPS dan metode pengajarannya dan bagaimana evektivitas mata pelajaran IPS yang diterapkan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Penelitian menggunakan metode campuran, dengan pengumpulan data kuantitatif melalui Critical Thinking Questionnaire dan analisis menggunakan SPSS. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara, observasi pembelajaran, dan analisis dokumen tugas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di MTs Hidayatul Mubtadi’in telah berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Metode interaktif seperti diskusi, studi kasus, dan problem-based learning terbukti efektif. Sebagian besar siswa menunjukkan kemampuan berpikir kritis dalam kategori sedang hingga tinggi, meskipun masih ada yang berada di kategori rendah. Dengan demikian, pembelajaran ilmu pengetahuan sosial berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun, masih diperlukan perbaikan dan inovasi pembelajaran agar hasil yang dicapai dapat lebih merata dan optimal di semua kelompok siswa.
MAKAM SUNAN BONANG TUBAN SEBAGAI PRANATA SOSIAL ISLAM: KAJIAN HISTORIS DAN BUDAYA ISLAM Sri Yahfi; Dudung Abdurrahman; Ahmad Ghozi; Nailul Fauziyah; M. Zainuddin
Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 4 No. 4 (2025): Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/dsjpips.v4i4.22644

Abstract

Saints’ tombs function not only as burial sites for religious figures but also as social institutions that shape norms, religious authority, and social relations within Muslim communities. This article examines the Tomb of Sunan Bonang in Tuban as an Islamic social institution through historical and cultural perspectives. The study employs a qualitative method using social historical and cultural approaches. Data were collected through literature review of historical sources, previous scholarly works, and documents related to pilgrimage practices and site management at the Tomb of Sunan Bonang. The findings reveal that the tomb serves as a medium for transmitting Islamic values, legitimizing religious authority, and exercising symbolic control over religious practices. Furthermore, the management of the site reflects power relations manifested through spatial organization, regulation of pilgrims’ behaviour, and surveillance mechanisms aimed at preserving sacredness while accommodating cultural heritage protection and religious tourism. In the context sacred traditions, local culture, and economic interests. This study concludes that the Tomb of Sunan Bonang should be understood not merely as a. historical or ritual space, but as a dynamic Islamic social institution that plays a crucial role in sustaining religious life and social order within Javanese Muslim society. ABSTRAK Makam wali tidak hanya berfungsi sebagai situs pemakaman tokoh agama, tetapi juga sebagai pranata sosial yang berperan dalam pembentukan norma, otoritas keagamaan, dan relasi sosial masyarakat Muslim. Artikel ini bertujuan menganalisis Makam Sunan Bonang Tuban sebagai pranata sosial Islam melalui pendekatan historis dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial dan kajian budaya. Data diperoleh melalui studi literatur terhadap sumber-sumber historis, hasil penelitian terdahulu, serta analisis dokumen terkait pengelolaan dan praktik ziarah di Makam Sunan Bonang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Makam Sunan Bonang berfungsi sebagai ruang transmisi nilai keislaman, legitimasi otoritas seligius, dan control simbolik terhadap praktik keagamaan masyarakat. Selain itu, pengelolaan makam mencerminkanadanya relasi kuasa melalui pengaturan ruang, regulasi perilaku peziarah, dan mekanisme pengawasan yang bertujuan menjaga kesakralan sekaligus mendukung kepentingan pelestarian dan pariwisata religi. Dalam konteks modernisasi, makam Sunan Bonang mengalami proses negosiasi antara kesakralan, tradisi local, dan logika ekonomi. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Makam Sunan Bonang tidak dapat dipahami semata-mata sebagai situs sejarah atau ruang ritual, melainkan sebagai pranata sosial Islam yang dinamis dan berperan penting dalam membentuk keberagaman masyarakat Islam Jawa secara berkelanjutan.
FATHER INVOLVEMENT AND ACADEMIC MOTIVATION AMONG UNIVERSITY STUDENTS: THE LIMITED MEDIATING ROLE OF SELF-EFFICACY: The Limited Mediating Role of Self-Efficacy Hikmalyansyah Hidayat; M. Zainuddin
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.8155

Abstract

This study examined the relationship between father involvement, self-efficacy, and academic motivation among university students, particularly among students experiencing fatherlessness. An explanatory sequential mixed-methods design was employed involving 91 students from the Social Studies Education Program at UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Quantitative data were analyzed using Pearson correlation and PROCESS Macro Model 4 mediation analysis, while qualitative data were obtained through in-depth interviews and open-ended questionnaire responses. The findings showed that father involvement had a significant positive effect on academic motivation, while self-efficacy also positively predicted academic motivation. However, self-efficacy did not significantly mediate the relationship between father involvement and academic motivation. Qualitative findings revealed that fatherless students tended to experience emotional vulnerability, loneliness, and insecurity, but many developed resilience, forced independence, and survival-oriented motivation. In contrast, students with higher father involvement demonstrated greater emotional security, confidence, and academic persistence due to paternal emotional support and role modeling. Open-ended responses further indicated that emotional presence, communication, encouragement, and paternal example were perceived as more meaningful than financial support alone. Overall, the study suggests that father involvement serves as an important psychological and motivational resource in students’ academic lives, while academic motivation among fatherless students may emerge from resilience, family responsibility, and self-proof rather than self-efficacy alone.