This study was conducted to understand how critical consciousness is developed among members of Komunitas Kasih Baca through community-based literacy practices and to evaluate the level of effectiveness of that consciousness after members participate consistently in community activities. The study departs from the context that formal education remains focused on academic achievement and does not fully provide room for learners to reflect on social experiences, which highlights the need for alternative forms of learning that encourage individuals to interpret reality and act in transformative ways. The research integrated qualitative and quantitative approaches sequentially, beginning with an exploration of members’ lived experiences through observation, interviews, and documentation of literacy activities, followed by the development of a measurement instrument to assess critical consciousness based on the qualitative findings. The results show that critical consciousness is developed through dialogical literacy practices, including reading texts and lived realities, collective reflection, open discussions, and the implementation of social actions. Quantitative evaluation reinforces the qualitative results by indicating that the three dimensions of critical consciousness-reading social reality, critical reflection, and critical action-fall within the very high category. The main conclusion of this study is that community-based literacy practices not only improve members’ understanding of social issues, but also encourage sensitivity, collaboration, and social action for change. These findings confirm the strategic role of literacy communities as social learning spaces capable of shaping reflective and empowered individuals. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk memahami proses pembentukan kesadaran kritis pada anggota Komunitas Kasih Baca melalui praktik literasi berbasis komunitas, serta menilai tingkat efektivitas kesadaran kritis setelah anggota terlibat secara konsisten dalam kegiatan komunitas. Kajian ini berangkat dari realitas bahwa pendidikan formal masih berfokus pada pencapaian akademik dan belum sepenuhnya memberi ruang bagi peserta didik untuk merefleksikan pengalaman sosial, sehingga dibutuhkan pembelajaran alternatif yang mendorong individu untuk membaca realitas dan bertindak secara transformatif. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara berurutan, dimulai dengan penggalian pengalaman anggota melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan literasi, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan instrumen pengukuran untuk menilai tingkat kesadaran kritis berdasarkan temuan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran kritis terbentuk melalui kegiatan literasi yang bersifat dialogis, seperti membaca teks dan realitas sosial, refleksi bersama, diskusi terbuka, dan pelaksanaan aksi sosial. Evaluasi kuantitatif memperkuat temuan kualitatif dengan menunjukkan bahwa tiga dimensi kesadaran kritis, yaitu membaca realitas sosial, refleksi kritis, dan aksi kritis, berada pada kategori sangat tinggi. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa praktik literasi berbasis komunitas tidak hanya meningkatkan pemahaman anggota terhadap persoalan sosial, tetapi juga mendorong kepekaan, kolaborasi, dan tindakan sosial untuk perubahan. Temuan ini menegaskan pentingnya komunitas literasi sebagai ruang pembelajaran sosial yang mampu membentuk individu yang reflektif dan berdaya.