Anita Luthfiana Harahap
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Regulasi Emosi Melaluwi Al-‘Afwu: Studi Komparatif Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Misbah atas QS. Yusuf: 92 Anita Luthfiana Harahap; Maharani; Mardian Idris Harahap; Rahayu Fuji Astuti
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the significance of al-'afwu (forgiveness) in QS. Yusuf: 92 through the lens of emotional regulation. The study focuses on how the phrase "lā tasrība 'alaikumul-yaum" represents the peak of Prophet Yusuf's emotional management regarding his past. This study compares the interpretation of Ibn Kathir, which is bil ma'tsur in style, with the interpretation of M. Quraish Shihab, which follows an adabi ijtima'i (socio-literary) style, using a muqaran (comparative) method and a maudhu'i (thematic) tafsir approach. The research findings indicate that Ibn Kathir emphasizes forgiveness within a theocentric dimension, where emotional regulation is based on surrendering judgment to Allah (tafwidh). On the other hand, M. Quraish Shihab performs a more comprehensive psychological contextualization, viewing al-'afwu as an effort to develop an individual's inner self from the shackles of resentment to achieve shadr al-halim (an open heart). These differences show that while classical tafsir focuses on eschatology (reward and God's forgiveness), contemporary tafsir focuses more on mental health and social reactions. This research demonstrates that the terminology of al-'afwu in the Qur'an is not merely the waiving of legal claims, but rather a Qur'anic tool to stabilize the human condition in facing destiny.
Epistemologi Pengetahuan dan Kriteria Kebenaran Barat dalam Perspektif Studi Islam Anita Luthfiana Harahap; Salahuddin Harahap
Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jsiat.v2i2.285

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi pengetahuan dan standar kebenaran dalam tradisi intelektual Barat dari perspektif studi Islam. Epistemologi Barat selama ini menekankan akal dan pengamatan empiris sebagai sumber utama pengetahuan yang sah, sehingga membentuk pemikiran ilmiah dan filsafat modern, namun sering kali mengesampingkan dimensi metafisik dari kebenaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara kritis asumsi-asumsi epistemologi Barat dengan menempatkan epistemologi Islam sebagai kerangka evaluatif, bukan sekadar objek perbandingan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis konseptual terhadap paradigma utama epistemologi Barat serta prinsip-prinsip utama epistemologi Islam yang bersumber dari kajian klasik dan kontemporer Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi Islam mengintegrasikan akal, wahyu, serta nilai-nilai moral dan transendental sebagai sumber pengetahuan yang saling berkaitan, sehingga menawarkan standar kebenaran yang lebih holistik. Kerangka integratif ini memungkinkan penilaian ulang secara kritis terhadap klaim objektivitas dan netralitas epistemologi Barat dengan menekankan dimensi etika dan metafisika yang kerap diabaikan dalam wacana epistemologi modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa epistemologi Islam memiliki relevansi konseptual dan potensi kritis yang kuat dalam menjawab persoalan kebenaran dan pengetahuan dalam tradisi intelektual modern.