Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Inflasi, BI-Rate dan Kurs terhadap IHSG Periode 2021-2025 Nastassja Virginia Pongantung; Priskila Bernita Rottie
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12660

Abstract

Penelitian ini menganalisis hubungan inflasi, suku bunga kebijakan Bank Indonesia, dan nilai tukar rupiah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama periode 2021-2025. Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif terhadap 60 observasi runtun waktu bulanan. Data inflasi, suku bunga kebijakan, dan JISDOR diperoleh dari Bank Indonesia, sedangkan data penutupan bulanan IHSG diperoleh dari data historis IDX Composite pada Yahoo Finance dan diperiksa dengan statistik Bursa Efek Indonesia. Model menggunakan regresi linear berganda dengan transformasi log natural pada IHSG dan JISDOR. Pengujian mencakup statistik deskriptif, Augmented Dickey-Fuller, normalitas residual, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Karena residual menunjukkan heteroskedastisitas dan korelasi serial, inferensi menggunakan kesalahan baku heteroskedastisitas dan autokorelasi konsisten Newey-West dengan tiga lag. Inflasi berhubungan positif dan signifikan dengan IHSG (koefisien 0,0183; p = 0,0405), sedangkan koefisien suku bunga kebijakan bernilai negatif tetapi tidak signifikan (koefisien -0,0153; p = 0,3516). JISDOR berhubungan positif dan signifikan dengan IHSG (koefisien 1,2618; p = 0,0018). Ketiga variabel signifikan secara simultan (p F robust = 0,0003), dengan adjusted R-squared sebesar 0,5067. Hasil menunjukkan inflasi dan pergerakan kurs relevan terhadap dinamika nominal IHSG pada fase pemulihan pascapandemi dan normalisasi kebijakan moneter. Karena karakteristik stasioneritas belum seragam dan residual sangat persisten, hasil ditafsirkan sebagai hubungan bersyarat, bukan bukti kausal atau kointegrasi yang definitif.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FINANCIAL DISTRESS MAHASISWA MANAJEMEN PADA ERA FINTECH: STUDI PADA PENGGUNA PAYLATER DI KOTA MANADO Vionalisa Chandra; Zefanya Fernando Baroleh; Priskila Bernita Rottie
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol. 10 No. 4 (2026): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v10i4.20887

Abstract

Perkembangan pesat teknologi finansial telah mengubah cara mahasiswa mengakses dan memanfaatkan layanan keuangan, termasuk fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater. Meskipun PayLater memberikan kemudahan dalam transaksi digital, penggunaan yang berlebihan tanpa didukung kemampuan keuangan yang memadai dapat meningkatkan kerentanan mahasiswa terhadap financial distress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan, gaya hidup konsumtif, kontrol diri keuangan, dan intensitas penggunaan PayLater terhadap financial distress pada mahasiswa manajemen pengguna layanan PayLater di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal-asosiatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur menggunakan skala Likert lima poin terhadap 150 mahasiswa aktif program studi manajemen yang pernah atau sedang menggunakan layanan PayLater. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui evaluasi model pengukuran (measurement model) dan model struktural (structural model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress (β = -0,240; p = 0,046), yang menunjukkan bahwa semakin baik literasi keuangan mahasiswa maka semakin rendah tingkat tekanan finansial yang dialami. Gaya hidup konsumtif berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress (β = 0,351; p < 0,001), sedangkan kontrol diri keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress (β = 0,127; p = 0,167). Selanjutnya, intensitas penggunaan PayLater berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress (β = 0,377; p < 0,001) serta menjadi prediktor terkuat dalam model penelitian. Model penelitian mampu menjelaskan sebesar 45,9% variasi financial distress (R² = 0,459). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan serta mendorong perilaku penggunaan kredit digital yang lebih bijak dan bertanggung jawab di kalangan mahasiswa untuk mengurangi risiko financial distress pada era fintech.