Perkembangan pesat teknologi finansial telah mengubah cara mahasiswa mengakses dan memanfaatkan layanan keuangan, termasuk fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater. Meskipun PayLater memberikan kemudahan dalam transaksi digital, penggunaan yang berlebihan tanpa didukung kemampuan keuangan yang memadai dapat meningkatkan kerentanan mahasiswa terhadap financial distress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan, gaya hidup konsumtif, kontrol diri keuangan, dan intensitas penggunaan PayLater terhadap financial distress pada mahasiswa manajemen pengguna layanan PayLater di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal-asosiatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur menggunakan skala Likert lima poin terhadap 150 mahasiswa aktif program studi manajemen yang pernah atau sedang menggunakan layanan PayLater. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui evaluasi model pengukuran (measurement model) dan model struktural (structural model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress (β = -0,240; p = 0,046), yang menunjukkan bahwa semakin baik literasi keuangan mahasiswa maka semakin rendah tingkat tekanan finansial yang dialami. Gaya hidup konsumtif berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress (β = 0,351; p < 0,001), sedangkan kontrol diri keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress (β = 0,127; p = 0,167). Selanjutnya, intensitas penggunaan PayLater berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress (β = 0,377; p < 0,001) serta menjadi prediktor terkuat dalam model penelitian. Model penelitian mampu menjelaskan sebesar 45,9% variasi financial distress (R² = 0,459). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan serta mendorong perilaku penggunaan kredit digital yang lebih bijak dan bertanggung jawab di kalangan mahasiswa untuk mengurangi risiko financial distress pada era fintech.
Copyrights © 2026