Perundungan (Bullying) merupakan salah satu bentuk kekerasan yang masih sering terjadi dilingkungan Pendidikan dan dapat memberikan dampak negatif bagi peserta didik. Di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatatt bahwa sekitar lima puluh persen anak melaporkan mengalami perundungan. Kondisi tersebut juga ditemukan di MA Daarul Uluum Bantar Kemang Bogor, khususnya dalam bentuk perundugan verbal antar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru bimbingan konseling (BK) melalui konseling individu dalam menangani dampak perundungan verbal pada peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu dengan menggunakan analisis yang digunakan oleh Miles dan Huberman yang ada empat yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan konseling individu dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahap pengumpulan data, tahap membangun hubungan awal, tahap eksplorasi masalah secara mendalam, dan tahap akhir yang berfokus pada perubahan perilaku serta penguatan diri peserta didik. Dalam pelaksanaannya, guru BK menggunakan pendekatan humanistik dan Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk membantu peserta didik mengatasi dampak perundungan verbal. Meskipun demikian, terdapat beberapa hambatan yang dihadapi seperti kurangnya keterbukaan peserta didik, rasa takut dan kecemasan peserta didik serta keterbatasan sarana dan prasarana konseling. Dengan demikian, peran guru BK melalui layanan konseling individu menjadi sangat penting dalam membantu peserta didik mengatasi dampak perundungan baik secara emosional, psikologis, sosial dan akademik. Serta mendukung pemulihan kondisi perkembangan peserta didik secara optimal.