Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Mitologi Penamaan Masjid 60 Kurang Aso Dalam Perspektif Roland Barthes, Nagari Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan Divani Fadilah Putri; Fanesya Putri Amelya; Rugayah Rugayah; Azlin Resiana
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7627

Abstract

Nama adalah sebuah tanda linguistik, yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya sebuah makna. Yang selalu terjalin dengan konteks budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang melingkupinya. Dalam studi Semiotika, nama menjadi sebuah jembatan pemahaman bagi masyarakat, dalam mengontruksi dan memaknai sebuah realitas. Masjid merupakan pusat peribadatatan dan sebagai sebuah simbol keagamaan. Di Solok Selatan tepat nya di Nagari Pasir Talang,terdapat sebuah masjid yang sangat mencuri perhatian. Masjid ini bernama “Masjid 60 kurang Aso”. Dari segi literatur nama ini berarti “Masjid Enam Puluh Kurang Satu”. Penamaan ini sekilas tampak sistematis, namun konon menyimpan berbagai lapisan makna serta terdapat sebuah mitos yang diyakini oleh masyarakat sekitar, tentang asal-usul penamaan masjid tersebut. Untuk mengupas makna di balik nama ini, penelitian ini akan menerapkan semiotika Roland Barthes, khususnya konsep denotasi, konotasi, dan mitos. Melalui kerangka Barthes, kami akan menganalisis bagaimana nama "60 Kurang Aso" tidak hanya merujuk pada fisik bangunan, tetapi juga membangun dan mereproduksi sistem makna, nilai, serta mitos yang signifikan bagi masyarakatnya. Analisis ini diharapkan memperkaya pemahaman semiotika nama tempat, khususnya dalam konteks keagamaan dan warisan budaya Indonesia.