Izak Y.M. Lattu
Sosiologi Agama, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ADAT DAN PERBUDAKAN DALAM MASYARAKAT SUMBA: SEBUAH RITUAL OF HUMILIATION Paulus Ngongo Bolodadi; Izak Y.M. Lattu
Pute Waya: Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): December: Pute Waya: Sociology of Religion Journal
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2245

Abstract

Tulisan ini mengkaji fenomena perbudakan berbasis adat di masyarakat Sumba, dengan fokus pada hubungan antara kelas sosial Maramba (bangsawan) dan Ata (hamba). Penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana adat memperkuat sistem perbudakan serta praktik sehari-hari menjadi bagian dari "ritual of humiliation" terhadap Ata. Menggunakan pendekatan etnografi kritis dan kerangka teori ritual penghinaan dari Sunder John Boopalan dan teori ideologi Antonio Gramsci, tulisan ini mengungkap pola diskriminasi yang dilegitimasi adat sebagai narasi dominan dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat berperan signifikan sebagai legitimasi atas logika diskriminatif dalam melanggengkan struktur sosial yang timpang, dengan implikasi dehumanisasi, alienasi, dan eksploitasi terhadap Ata. Bahkan, dapat dikatakan bahwa adat adalah logika diskriminatif itu sendiri.
ANOMALI-KOLONIAL DI PAPUA SEBAGAI LEGITIMASI IDENTITAS DAN NASIONALISME PAPUA Yohanes Obed Apituley; Izak Y.M. Lattu
Pute Waya: Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): December: Pute Waya: Sociology of Religion Journal
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2248

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh dari Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua serta menemukan dimensi baru. Dalam konteks Papua, orang-orang Papua selalu menjadi sang liyan di NKRI. Papua hanya mengacu pada kekayaan alam yang ada. Hal ini tercermin dalam eksistensi Freeport pasca-New York Agreement pada tahun 1962. Bahkan dalam berbagai catatan historis, dapat dilihat bahwa Sumber Daya Alam di Papua selalu lebih menjadi sorotan ketimbang Sumber Daya Manusianya. Bahkan stigma separatis, perilaku rasialis dan diskriminatif terhadap orang Papua masih eksis hingga saat ini. Melalui metode penelitian literatur dan meminjam perspektif poskolonial dari Frantz Fanon, orientalisme Edward Said, konsep identitas hibrid dan mimikri Homi Bhabha, teori identitas Manuel Castells, dan konsep mitos Karen Armstrong, penelitian ini menemukan dua pokok penting dalam pembahasan mengenai pengaruh Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua. Pertama, orang Papua telah terjebak dalam kepentingan politik global. Kedua, kolonialisme barat di Papua memiliki karakteristik tersendiri. Berdasarkan penggunaan teori dan konsep-konsep tersebut, tulisan ini telah menunjukkan temuan yang baru. Konsep “Anomali-Kolonial di Papua” merupakan temuan utama dalam tulisan ini yang belum pernah dibahas pada tulisan-tulisan lain. Konsep ini juga dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami korelasi antara Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua.